Sunday, 2 June 2013

Tugas 2 Biografi - M. Sandhia Mahardhika XI IPA 4


R.M. Djabadoen
Pejuang Dalam dan Luar Negeri


Assalamualaikum Wr. Wb.

Tak pernah terbayang oleh kita, bagaimana jika kita hidup saat Indonesia belum merdeka. Mungkin sekarang, kita tidak akan bisa sekolah, mengerjakan tugas, dan bermain bersama teman - teman kita seperti sekarang. Generasi kita harus bersyukur, karena perjuangan dan impian para pahlawan – pahlawan di generasi yang terdahulu, sudah terwujud, yaitu merdekanya negara yang kita cintai ini, NKRI. Mereka mengorbankan jiwa serta raganya, hanya untuk membuat Indonesia merdeka dan berdiri utuh sebagai negara seperti sekarang ini. Tanpa pengorbanan dan jasa – jasa mereka, mungkin sampai sekarang Indonesia tidak akan merdeka, dan mungkin saja masih menjadi negara jajahan.

Untuk memenuhi tugas sejarah kelas 11 ini, saya akan menuliskan biografi salah satu kakek saya, yaitu R.M Djabadoen. Beliau adalah suami dari kakaknya nenek saya. Saya tidak mewawancarainya secara langsung, karena beliau sudah wafat, tapi saya mendapatkan informasi dengan mewawancarai 3 anak dari eyang Djabadoen, yaitu Tri Yoga Barata atau yang biasa dipanggil Pakde Lili, Nugroho Taruno (pakde nunu), dan Walatim Budoyo serta berdasarkan Riwayat-Hidup yang pernah ditulis oleh kakek R.M Djabadoen yang dibuat di Jakarta, pada tanggal 7 Desember 1976.

Semoga dengan ditulisnya biografi serta peranan - peranan eyang, bisa menyadarkan bahwa kita tidak boleh melupakan jasa jasa para pahlawan yang terdahulu yang sudah rela mengorbankan segalanya demi negara, dan menginspirasi para generasi – generasi muda untuk tetap semangat mengharumkan bangsa Indonesia.

BIOGRAFI
Eyang R.M. Djabadoen

            R.M. Djabadoen, atau yang biasa dipanggil Eyang Doen, lahir di Yogyakarta, pada tanggal 17 Januari 1923, hasil dari pasangan (Alm.) R.Ng. Prawirowigunohartono (bapak) dengan (Alm.) R.ay. Prawirowigunohartono (Ibu). Beliau mempunyai 2 saudara laki – laki, dan 1 saudara perempuan, yaitu R.B. Atmowiguno, R.M. Salikun dan Ny.R. Jayangwiguno. Beliau suka/gemar ber-Olahraga seperti Voli, Sepakbola & Atletik dan beberapa kesenian daerah seperti Gamelan. Menurut para narasumber, eayng Doen sangat suka sekali bercerita, terutama pengalaman -pengalamannya saat beliau berperang.

Di tahun 1930 – 1939, ia masuk ke Sekolah Dasar. Ia bersekolah di Sekolah Rakyat di Yogyakarta. Setelah itu beliau lanjutkan ke Openbare Mulo & Neutrale Mulo pada tahun 1939 – 1942. Tetapi sayangnya beliau tidak lulus. Selama ia bersekolah, beliau diajarkan 3 bahasa, yaitu Jawa, Belanda dan Inggris. Menurut narasumber saya, dulu tidak lulus sekolah adalah hal yang biasa, karena dulu jumlah sekolah masih sangat sedikit, dan kondisi Indonesia saat itu memang berbeda, tidak seperti sekarang.

Walaupun beliau tidak lulus SMP, beliau sempat mengikuti pendidikan militer, yaitu :

            1. Sandi, dari tahun 1950 s.d. 19... (tidak diketahui), dengan predikat lulus.
            2. SBA., dari tahun 1954 s.d. 1955, dengan predikat lulus.
            3. Suski, dari tahun 1961 s.d. 19... (tidak diketahui), dengan predikat lulus.

            Eyang Djabadoen menikah dengan Eyang R. Soehadiah. Sayanng sekali ke 2 narasumber tidak ingat tanggal pernikahan eyang Doen. 6 anak telah lahir hasil dari pernikahan eyang Soehadiah dengan eyang Djabadoen, yaitu :

1.      R.M. Sinangjaya (Alm.)
2.      R.a. Sri Wahyuning
3.      R.M. Walatin Budoyo
4.      R.M. Tri Yoga Barata
5.      R.a. Sri Rahayu
6.      R.M. Nugroho Taruno

Karena beliau adalah seorang TNI-AD, tentu beliau punya pangkat. Pangkat pertamanya adalah Bundanoho, yang ia dapatkan di tahun 1945. Saat pangkatnya masih Bundanoho, menurut riwayat hidup yang pernah beliau tulis, ia menjabat sebagai Tentara P.E.T.A yang berkedudukan di daerah Gombong dengan induk kesatuan Kedu Dai III Daidan. Di tahun 1946, beliau naik pangkat menjadi Letnan Muda. 4 tahun kemudian, eyang pernah 2 kali menjabat sebagai Wakil Kepala Kamar Sandi, yang pertama di daerah Magelang, denga Komandan Brigadir Letnan Kolonel Ahmad Yani, yaang ke 2 di Solo, dengan Komandan Brigadir Letnan Kolonel Slamet Riadi. Keudanya dalam induk kesatuan yang sama, yaitu Staf Brigade Divisi III.

Tanggal 1 Januari 1955, beliau naik pangkat dari Pembantu Letnan, menjadi Letda (Letnan Dua). Setelah beliau naik pangkat di 1955, beliau menjabat sebagai Dan Ton II kompi 1 di Sragen, dengan Komandan Resimen (Alm.) Letnan Kolonel Soeharto selama 1 tahun. Di tahun 1956 sampai 1957, beliau ditugas kan keluar negeri, yaitu Mesir dan menjabat sebagai Dan Ton 1 Kompi B, untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh PBB ke Batalyon Garuda I. Setelah tugas di Mesir selesai, Beliau dipindah tugaskan menjadi Kepala Biro Organisasi Si.2, pada tahun 1958 s.d. kurang lebih 1961 dengan induk kesatuan Staf RI.13. Divisi III/ Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta.

Setelah kurang lebih 5 tahun menjadi Letda, beliau naik pangkat lagi dari Letda menjadi Lettu (Letnan Satu). Dari Lettu menjadi Kapten pada tahun 1963. Kapten menjadi Mayor di tahun 1967. Di tahun 1969 sampai dengan 1972, beliau menjadi Kepala Staf Kodim 0504 di daerah Jakarta Selatan. Pangkat terakhirnya adalah Let.Kol (Letnan Kolonel), yang ia dapat pada 1 Juli 1971, setelah menjadi mayor selama kurang lebih 4 tahun.

Selama karir ke-militeran-nya, eyang Djabadoen sudah banyak mendapatkan penghargaan – penghargaan atas jasanya membantu TNI-AD. Diantaranya adalah :

1.      Bintang Kartika Kelas III, beliau dapatkan karena telah dinas di ABRI selama 27 tahun dari 1945 sampai dengan 1972.

2.      Bintang Gerilya, beliau dapat dari penugasan Clash ke I dan ke II (1947 s.d. 1948)

3.      Bintang Sewindu, beliau dapat karena pengabdian beliau terhadap TNI-AD selama 8 tahun (1945 s.d. 1953)

4.      Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun, beliau dapat karena sudah bertugas selama 24 tahun untuk TNI-AD.

5.      Satya Lencana Aksi Perang Kemerdekaan I, beliau dapat karena turut andil dalam Perang Kemerdekan ke I

6.      Satya Lencana Aksi Perang Kemerdekaan II, beliau dapat karena turut andil dalam Perang Kemerdekaan ke II, Pemberantasan Batalyon Sumolangu (1950), Pemberantasan Batalyon 426 (1952), dan Operasa D.I. Daerah Banyumas (1955 s.d. 1956)

7.      Satya Dharma, beliau dapat karena turut andil dalam operasi “Trikora” (1963), serta dalam Pemberontakan Gerakan 30 September/PKI atau yang biasa kita sebut G30S/PKI. (1965)

8.      G.O.M., beliau dapat karena ikut bereperan dalam Operasi 17 Agustus tahun 1958

9.      U.N.E.F., beliau dapat karena mendapat penempatan tugas di Mesir, sebagai polisi P.B.B Batalyon Garuda I pada tahun 1956 s.d. 1957 (tidak ada piagam penghargaan)

Beliau wafat pada tanggal 8 bulan Agustus tahun 1998.




PERANAN

            Sebagai salah satu bagian dari TNI-AD, sudah merupakan kewajiban bagi Eyang Doen untuk menerima panggilan – panggilan tugas, walau harus meninggalkan keluarganya jauh untuk sementara. Tetapi, itu demi mengamankan stabilitas negara Indonesia, yang saat itu kondisinya belum sepenuhnya stabil, walau sudah memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tidak hanya untuk keamanan negara, Eyang juga pernah ditugaskan ke luar negeri untuk memenuhi perintah dari P.B.B.

            Berikut adalah beberapa penugasan yang sudah Eyang lakukan selama menjadi tentara TNI-AD :

1.      Beliau ikut berperan dalam operasi perlucutan senjata – senjata Jepang, di kota baru, Yogyakarta pada tahun 1945.

2.      Perang Kemerdekaan yang pertama, di daerah Semarang Timur, Semarang Barat, dan Semarang Selatan pada tahun 1946 sampai dengan 1947.

3.      Operasi Gandiroto di daerah Temanggung Utara di tahun 1947.

4.      Beliau ikut berperan dalam Peristiwa Madiun di daerah Magelang, Temanggung, Parakan, dan Gandiroto di tahun 1948.

5.      Perang Kemerdekaan kedua tahun 1948

6.      Pemberontakan Batalion Sumolangu di daerah Kutoarjo dan Kebumen (1950) dan Batalion 426 di Solo, Yogyakarta, Wonosobo dan Pekalongan (1952)

7.      Penugasan keluar negeri sebagai Pasukan P.B.B Batalion Garuda I ke Mesir (Gurun Sinai dan Gaza) tahun 1956 – 1957

8.      Operasi 17 Agustus 1958

9.      Peristiwa Gerakan 30 September atau G30S/PKI. (Jakarta)


Satyalantjana Kesetian 24 tahun, yang diberikan Soeharto
Pengakuan gelar Veteran Pejuang Kemerdekaan RI





















PENUTUP

Kita memang sudah hidup di zaman yang berbeda dari para eyang eyang kita terdahulu, tetapi kita harus tetap menghargai apa yang telah dilakukan oleh generasi generasi kita yang terdahulu. Semoga kita dapat mewariskan impian mereka agar dapat terwujud, yaitu menjadi sebuah negara kesatuan yang utuh, dan nama Indonesia suatu saat akan bisa dikenal di dunia Internasional yang dapat bersaing dengan negara adikuasa lain.

Sekian.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

No comments:

Post a Comment