Saturday, 1 June 2013

Tugas 2 - Biografi Adli Farhan Natoras XI IPA 3



          
      Syarifuddin Harahap, Pejuang, Politikus, 
     Pemikir, dan Pengabdi
    
 
          Nama Saya Adli Farhan Natoras dari kelas XI IPA 3. Saya telah ditugaskan oleh guru sejarah kelas XI IPA dan IPS Labschoole Kebayoran bernama Pak Shobirienur Rasyid, untuk membuat biografi dan peranan tentang seseorang yang saya anggap saksi sejarah. setelah lama berpikir, saya pun memutuskan untuk membuat artikel berisi biografi dan peranan yang dilakukan oleh kakek saya, yang sering saya panggil Opung, Syarifuddin Harahap. Ia adalah kakek dari bapak saya bernama Afiansyah Harahap.
      

     A. Biografi

     Anak laki laki memiliki arti penting bagi masyarakat Batak yang terkenal kuat mempertahankan adat. Hal inilah yang menyebabkan angka perceraian di tanah batak cukup kecil. Pada masa lalu, alas an yang sering muncul mengakibatkan perceraian adalah karena ketiadaan keturunan laki laki. 
                                           
     Keluarga Poerba Harahap sangat mendambakan anak lelaki, dikarenakan anak laki laki pertamanya, Alimusa, meninggal saat berumur 7 tahun. Setelah itu, keluarga Harahap berdoa untuk mendapat anak lelaik lagi. Akhirnya, pada tanggal 21 Oktober 1938 di jalan gandi 192, medan, terdengar sebuah suara yang memecah kesunyian malam dan membangunkan warga sekitar. Pada saat itu, kehidupan baru telah terlahir di dunia ini.                                                                                                                                      
     Syarifuddin Harahap merupakan keturunan dari Ayah bernama Poerba Harahap alias Haji Awaluddin Nur (lahir tahun 1904, meninggal 5 april 1981) dan Ibu bernama Siti Bona Radja Siregar Siagian alias Hajjah Maimunah (lahir 11 januari 1911, meninggal 7 agustus 1988). Pasangan suami istri Poerba Harahap dan Siti Bona Radja Siregar Siagian dikaruniai oleh Allah SWT 10 orang anak.  Ali Musa (meninggal usia 7 tahun), Siti Aminah ( meninggal usia 67 tahun), Siti Dahlia ( meninggal usia 42 tahun), Siti Satnah, Siti Hannah, Syarifuddin, Alimuddin ( meninggal usia 56 tahun), Syafiuddin, Muhammaddin (meninggal usia 2 tahun), dan Syahruddin.                                                                                                                          
     Masa kecil Syarifuddin dilalui pada masa perjuangan fisik / perang kemerdekaan, akibatnya ia harus pindah – pindah sekolah. Ketika ia berumur 7 tahun, ia masuk Sekolah Rakyat (SR) kelas satu di medan. Tetapi, satu bulan kemudian ia terhenti, karena sekolah ditutup akibat perang melawan sekutu yang berlangsung di medan. Ibu kota sumatera saat itu dipindah ke pemantang siantar, dan syarifuddin sekeluarga ikut pindah. Tahun 1947 ia kembali mendafta di kelas 1,dan karena itu ia ketinggalan 2 tahun di kelas 1. .                                                                                                                                                             
       Tahun 1948 keluarga syarifuddin pindah ke Medan, dan pada waktu itu Sekolah Rakyat Algemene Lagere School yang berbahasa belanda khusus untuk anak – anak yang tertinggal karena revollusi. Disebut khusus karena kenaikan kelas terjadi setiap 6 bulan, tetapi Sekolah Rakyat Algemene Lagere School hanya mencapai kelas 8. Di sekolah itu, karena syarifuddin memperoleh angka-angka yang baik, maka ia mengalami kenaikan kelas dari kelas 6 ke kelas 8, sehingga pada usia 13 tahun Syarifuddin berhasil menamatka Sekolah Rakyatnya.            
     
     Kemudian ia melanjutkan keSMP Negeri 2 di medan dan lulus tahun 1954. Setelah lulus SMP, ia ikut bersama Abang Iparnya Marsan Siregar, yang kebetulan pindah ke Jakarta tahun 1954. Syarifuddin yang memiliki motivasi tinggi untuk maju tidak menyia – nyiakan kesempatan yang ia dapat itu, apalagi rencana akan melanjutkan sekolah ke Ibu Kota diam – diam telah ada di dalam hatinya. Namun, sesampai di kota Jakarta, pendaftaran masuk SMA Negri telah ditutup. Maka iapun masuk di SMA Swasta Gajah Mada di Jalan Jawa ( sekarang Jalan Cokroaminoto). Ia tidak lama bersekolah di SMA swasta Gajah Mada, hanya setengah bulan saja, untuk memenuhi keinginan masuk di sekolah yang berkualitas ia pun mendaftar untuk pindah ke Sekolah SMA swasta, yaitu di PSKD1, di jalan Asem Baru ( sekarang dinamakan Jalan Sam Ratulangi). Di sekolah tersebut, prestasi syarifuddin sangat baik, tercatat ia juara 1 sejak kelas 1 sampai kelas 3. Setamat SMA di PSKD 1, tahun 1957, ia pun melanjutkanpendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dan berhasil lulus ujian ujiannya. Mei 1958, lulus persiapan ( hanya 9 bulan kuliah, termasuk 3 bulan di Fakultas Hukum), kemudian juni 1960, ia lulus sebagai sarjana muda. Setahun kemudian tahun 1961, ia lulus tingkat IV. Terakhir bulan juni 1962, lulus seluruh mata pelajaran tingkat V ( belum termasuk skripsi).

     Seperti direncanakan di bagian lain, tahun 1967 Syarifuddin Harahap pindah ke fakultas ekonomi universitas sriwijaya Palembang dan menyelesaikan skripsi dan ujian sarjana lengkap dan dinyatakan lulus desember 1967.

     Sebenarnya Syarifuddin ingin kuliah di Fakultas hokum, bahkan ia sudah sempat ikut kuliah selama 3 bulan, akan tetapi sebagai anak yang patuh pada urang tuanya, ia tidak berani melawan keinginan ayahnya yang berkehendak agar ia mengambil fakultas ekonomi. Kebetulan waktu itu, dekan fakultas hokum dan fakultas ekonomi orangnya sama, yaitu Profesor Doktor Djokosoetono, sehingga mudah saja untuk bias pindah Fakultas. Keterlambatan menulis skripsi di Fakultas ekonomi UI dari tahun 1961 sampai 1966 adalah akibat terlalu aktifnya ia dalam kegiatan organisasi dan kesibukan di kantor tempatnya bekerja.

      B. Peranan
      
     
          Pada tanggal 24 Februari tanggal 1860. Hari itu cabinet dwikora akan dilantik di istana. Syarifuddin akan mencona menggagalkan pelantikan kebinet 100 menteri dengan cara memacetkan jalan seluruh lalu lintas pada pukul 6 pagi.saat itu, Syarifuddin sedang berada di bundaran depan Hotel Indonesia. Ia pun memberhentikan mobilnya di tngah tengah jalan, lalu iya mengempeskan semua bannya agar terlihat seperti kecelakaan, sehingga menghalangi setiap kendaraan yang akan lewat di jalan tersebut. Setelah kira – kira satu jam, jalanan sudah macet. Kemudian macetnya menyebar ke jalan jalan lain, sehingga lalu lintas di seluruh penjuru kota sangat macet.

      Adapun peristiwa lain yang dilakukan oleh Syarifuddin.
     Syarifuddin pada masa itu sangat benci sekali trhadap Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio yang oleh mahasiswa diberi panggila “Durno” atau “Tokoh Plintan Plintun”. Syaruifuddin mendapat informasi bahwa Dr. Subanjo sudah mulai berusaha dekat dengan PB HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). 

          Syarifuddin ingin menunjukkan bahwa kesatuan HMI tidak dapat bias menerima Dr. Subandrio dan kemudian membicarakannya dengan tokoh tokoh PII ( Pelajar Islam Indonesia), dan khususnya kepada Baron Harahap. Syarifuddin mengatakan “ besok pagi kita akan jemput anggota – anggota HMI yang tinggal di Mesjid Agung, dan kita akan membakar gedung kantor departemen luar negeri di Pejambon”.

          Pada bulan september tahun 1965, Syarifuddin ikut serta dalam delegasi PB HMI dan bertemu langsung dengan Bung Karno di Istana Bogor yang berlangsung antara pukul 19:00 sampai 23:00 WIB. Dalam Pertamuan Itu, Bung Karno marah - marah atas terjadinya aksi fisik yang dilakukan PB HMI menimbulkan kprban jiwa, dan menyatakan bahwa dia telah berjuang puluhan tahun untuk persatuan dan kesatuan bangsa, tapi sekarang telah sia -sia dan bangsa indonesia terancam pecah. Bung Karno juga berkata perlunya dikembalikan situasi normal agar dapat melangsungkan kegiatan GANEFO. (GANEFO adalah Games Of New Emerging Forces, adalah suatu ajang olahraga yang didirikan pleh Soekarno, pada akhir tahun 1962 sebagai tandingan Olimpiade. GANEFO menegaskan bahwa politik tidak bisa dipisahkan dengan olahraga, hal ini menentang doktrin Komite Olimpiade Internasional (KOI) yang memisahkan antara politik dan olahraga. Indonesia mendirikan GANEFO setelah kecaman KOI yang bermuatan politis pada Asian Games 1962, karena Indonesia tidak mengundang Israel dan Taiwan dengan alasan simpati terhadap China dan negara-negara Arab. Aksi ini diprotes KOI karena Israel dan Taiwan merupakan anggota resmi KOI. Akhirnya KOI menangguhkan keanggotaan Indonesia, dan Indonesia diskors untuk mengikuti Olimpiade Tokyo 1964. Ini pertama kalinya KOI menangguhkan keanggotaan suatu negara.) Dengan sikap - Sikap Tersebut, Bung Karno masih membela PKI sebagai organisasi yang tidak terlibat dalam Gestapu/PKI (gerakan 30 september PKI). menurut Bung Karno, Itu hanya perbuatan oknum saja, dan gagasan Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) perlu dipertahankan untuk 
mempersatukan bangsa. Mendengar itu, PB HMI dan Syarifuddin tetap mengusulkan PKI dibubarkan, dan agar Bung Karno jangan melawan arus yang berhadapan dengan pemuda yang ingin mempertahankan Pancasila. Itulah salah satu dari banyak hal yang dilakukan oleh kakek syarifuddin saat menjadi Anggota PB HMI.



     Selain Peristiwa Peristiwa yang sudah saya ceritaka, kake Syarifuddin pun ikut serta dalam Membakar Gedung Departemen luar Negeri.
 
     Pada pagi hari tanggal 8 maret 1966, Syarifuddin, Baron Harahap, dan beberapa anggota HMI pergi ke kantor Departemen luar negeri. Syarifuddin dan kawan – kawan masuk saja ke halaman Departemen Luar Negeri, walaupun ada satpamnya. Syarifuddin katakana bahwa gedung ini akan dibakar dan jangan menghalangi, karena sebentar lagi massa yang banyak akan berdatangan.

     Syarifuddin dan kawan – kawan pun mula mula masuk ke ruang bawah dan mengambil arsip yang ada di meja – meja, mengumpulkannya dan menbakarnya. Apinya pun cepat berkobar dan menyebar ke seluruh ruangan tersebut. Setelah kelihatan gedung Departemen Luar Negeri terbakar, massa yang sebagian besar anggota PII (pelajar islam Indonesia) terus bertambah banyak. Itulah yang dilakukan kakek saya tanggal 8 maret 1966.

     Tiga peristiwa ini adalah peristiwa yang saya pilih dari banyak peristiwa sejarah yang dialami Kakek Syarifuddin. Saya sangat bangga terhadap kakek saya karena dia berani mengambil alih masalah ke tangannya sendiri, dan tidak takut untuk beraksi.











  

No comments:

Post a Comment