Saturday, 1 June 2013

Tugas 2 - Biografi Adriana Putri


Saksi sejarah adalah orang yang menyaksikan suatu peristiwa yang bersejarah. Sedangkan pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada Warga Negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.
Sehubungan dengan tugas yang diberikan oleh guru sejarah, siswa siswi dasecakra diwajibkan untuk mewawancarai seorang pahlawan Nasional/tokoh sejarah/saksi sejarah. Saya awalnya berniatan untuk mewawancara opa saya (dari mama) yang bernama Abdul Falaq. Akan tetapi, pada saat dulu berlangsungnya perang, beliau masih sangat muda. Beliau berumur kira kira tiga tahun saja. Opa saya hanya ingat akan ayahnya (buyut saya) yang ikut turut berperan dalam perang dan menyembunyikan opa agar tidak terkena tembakan dari penjajah.
Buyut saya adalah merupakan seorang anggota ABRI berpangkat sersan yang sempat ikut berperang membela Indonesia, tetapi sayangnya beliau meninggal dunia karena ikut berpartisipasi dalam berperang. Beliau dikuburkan di pemakanan pejuang yang berada didaerah Bekasi. Buyut saya kemudian tidak meninggalkan berkas-berkas apapun. Hal tersebut dikarenakan oleh rumahnya ikut terbakar ketika terjadi peristiwa kebakaran besar pada tahun 1963 di daerah kota Jakarta tepatnya di Kampung Sawah Lio. Dikarenakan oleh halangan halangan tersebut, saya memutuskan untuk mencari sumber yang lain. Saya memutuskan untuk mewawancara Eyang dari teman saya, Sarah Nadia Avianto, yang bernama Eyang Hadiati Soewahyo melalui telefon.
BIOGRAFI
Eyang Hadiati Soewahjo adalah sangat ramah dan asik. Beliau lahir pada tanggal 29 April tahun 1945. Beliau merupakan anak ke-5 dari enam bersaudara dari pasangan bapak R. Soewahyo Soemodilogo dan ibu RA Siti Soetasmina. Bapak R. Soewahyo Soemodilogo adalah DKA yang saat itu dan sampe sekarang berpusat di Bandung. Anak pertamanya adalah Roelan Soewahyo lalu anak keduanya Kamianti Soewahyo lalu anak ketiganya adalah Soenanti Soewahyo dan anak ke empatnya adalah Soejanti Soewahyo dan anak ke enam/terakhir bernama Soegiono Soewahyo.
Beliau lahir di Bandung dan besar di Jakarta. Beliau bercerita ketika masih kecil, saat Jepang sedang menjajah Indonesia, beliau sering mendapat hadiah dari Jepang karena pada saat itu sedang memperingati hari ulang tahun salah satu kaisar Jepang.
Setelah perang dunia kedua, Jepang mengalami kekalahan. Oleh karena itu, Jepang yang kalah membuat perjanjian dengan pihak yang menang untuk mengembalikan apa apa yang Jepang ambil dari pihak yang menang. Belanda yang berada dipihak yang memenangkan perang, bermaksud untuk balik ke Indonesia untuk melanjutkan penjajahan. Namun pada saat itu, Indonesia sudah merdeka. Belanda membuat Eyang Hadi dan keluarganya mengungsi keberbagai tempat seperti Jogjakarta karna dikejar kejar oleh Belanda.
Ketika kecil, Eyang Hadi sudah mempunyai rasa benci akan kehadiran Belanda karena menurut beliau, Belanda sangat jahat. Belanda tidak mau mengakui akan fakta bahwa mereka itu kejam. Pada saat umur 3 tahun beliau sempat menyaksikan ibunya menangis sampai terguling guling. Ternyata, Jendral Westerling yang saat itu merupakan pemimpin penyerangan di Bandung  telah membunuh salah satu dari kakak sepupu Eyang.
Agresi Militer Belanda 1 adalah operasi militer Belanda di daerah Jawa dan Sumatra terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari tanggal 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Operasi militer ini merupakan bagian dari Aksi Polisionil yang diberlakukan Belanda dalam rangka mempertahankan penafsiran Belanda atas perundingan Linggarjati. Dari sudut pandang Republik Indonesia, operasi ini dianggap merupakan pelanggaran dari hasil Perundingan Linggarjati.
Tujuan utama belanda adalah merebut daerah- daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggarjati. Sedangkan Agresi Militer Belanda 2 atau operasi gagak terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serang terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Setelah terjadinya agresi militer 1 dan 2, eyang masih dikejar kejar oleh Belanda.
Banyak anggota keluarga dari Eyang yang dipaksa untuk ikut menjadi Romusha. Romusha adalah panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyak romusha adalah petani dan sejak Oktober 1943 pihak Jepenag mewajibkan para petani menjadi romusha. Jumlah romusha sangat banyak dan tidak diketahui secara pasti.
Pada tahun 1949, Belanda pergi dari wilayah Indonesia dan keluarga Eyang Hadi pindah ke Jakarta karena ayah dari Eyang Hadi diangkat menjadi Gubernur hanya untuk sementara waktu. Lalu ayah dari Eyang Hadi diangkat menjadi kepala dalam negeri (sekarang disebut juga sebagai menteri dalam negeri). Dan sebagai menteri dalam negeri, ayahnya diperintahkan oleh Soekarno untuk mendirikan Agraria. Beliau sempat juga diperintahkan untuk mengurus kejaksaan agung. Setelah pension, beliau menjadi Dekan di sebuah Universitas yaitu Institut Islam yang berada di daerah Ciputat.
Sebagai seorang pelajar, Eyang Hadi merupakan siswa yang bandel yang sempat berpindah pindah sekolah karna ulahnya sendiri. Pada akhirnya, Eyang Hadi bersekolah di Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia pada umur 20an pada tahun 1965. Beliau aktif berorganisasi di Universitas Indonesia namun tak jarang, beliau ikut berkelahi.
Gerakan 30 September atau yang sering disebut G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sambapi di awal 1 Oktober 1965 dimana enam perwira tinggi militer Negara Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, selain Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965, anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.
Pada 1 Oktober1965 dini hari, enam jenderal senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana yang dianggap loyal kepada PKI dan pada saat itu dipimpin oleh Letkol. Untung. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat saat itu, Mayjen Soeharto kemudian mengadakan penumpasan terhadap gerakan tersebut.
Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:
•    Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
•    Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
•    Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
•    Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
•    Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
•    Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.
Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:
•    Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr J Leimena)
•    Kolonel Katamso Darmokusomo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
•    Letkol Sugiyono Mangun wiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai “Lubang Buaya”. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.
Pada saat terjadi kejadian G30S PKI berlansung, Eyang Hadi yang masih berada di Universitas Indonesia, sempat terpurtus. Beliau ikut serta dalam gerakan demo mahasiswa. Beliau tidak menyaksikan secara langsung, tetapi beliau tidak setuju akan perlakuan Partai Komunis Indonesia dan maka itu beliau ikut serta dalam demi mahasiswa tersebut. “dikudeta di masukin kesumur itu serem banget memang.” Ucap beliau. Setelah kejadian kembali normal, beliau tidak melanjutkan kuliah karena malas. Beliau juga menceritakan tentang temannya yang merupakan anak dari bapak Ahmad Yani yang bernama Ruli.
“Kamu mau nggak, kawin sama aku?” Tanya Eyang Bambang Kepada Eyang Hadi.
Eyang Hadi menikah pada tanggal 14 Februari tahun 1966 dengan Eyang Bambang Sugeng. Mereka bertemu di Jakarta. Dari pasangan tersebut, lahirlah tiga anak. Anak pertama bernama Dhani Avianto Sugeng, anak kedua bernama Cynthia Avianti Sugeng, anak terakhir bernama Ary Andromeda Sugeng. Beliau sempat bercerita ketika anak anaknya masih kecil, beliau sering menaruh mereka ditengah tengah jalan di gang depan rumahnya. Biasanya mereka diambil oleh para tetangga dan dikembalikan pada sore hari dalam keadaan Kenyang dan bersih. Teman saya, Sarah Nadia Avianto adalah anak dari pasangan om Dhani Avianto Sugeng dengan isteri nya yang bernama tante Sinta Saptarina.
Bapak Bambang Sugeng adalah TNI AU (Angkatan Udara) sebagai penerbang pesawat yang meninggal karena kecelakan pesawat yang terjadi di Gunung Sumbing Jawa Tengah pada tahun 1980an. Setelah meninggalnya Eyang Bambang, Eyang Hadi mulai bekerja. Beliau sering berganti pekerjaan. Salah satu contoh pekerjaan beliau adalah bekerja di perusahaan iklan, di perusahaan bangunan, dan bekerja di restoran.
Eyang Hadi merupakan salah satu saksi sejarah yang sempat ikut menyaksikan kejadian kejadian penting yang berperan dalam sejarah Indonesia. Saya sebagai siswa mendapat hikmah penting dari kisah-kisah yang saya dengar dari beliau. Bahwa pada jama dulu, semua orang mati-matian untuk berjuang untuk tetap bertahan hidup dan berusaha semaksimal mungkin untuk melawan para penjajah namun, pada jaman sekarang, banyak sekali orang khususnya pemuda Indonesia yang masih belum tau dan sadar akan sejarah Indonesia. jangankan untuk membantu majunya bangsa, mengenal sejarah dan budaya Indonesia pun tampaknya tidak dihiraukan. Amanatnya adalah, kita sebagai pemuda pemudi penerus, harus bisa melanjutkan apa apa yang telah para pahlawan mulai dan membuat Indonesia semakin maju dan semakin merdeka dari segala bentuk jajahan yang ada.

No comments:

Post a Comment