Saturday, 1 June 2013

Tugas 2 Biografi - Anindityo Agung Baskoro XI IPA 1

Samuel Ratulangie, Jenius Dari Timur Indonesia



(ki-ka : Bpk Oemar, Bpk Daryono, Saya, Bpk Agus, Ibu Ita)



Pada hari rabu tanggal 29 mei 2013, saya menyempatkan diri izin keluar dari sekolah untuk pergi ke museum polri dan mencari narasumber guna kepentingan tugas sejarah dan mulok saya. Tentunya saya tidak sendiri, pada perjalanan saya untuk mencari informasi guna kepentingan tugas sejarah dan muatan local saya ini, saya ditemani oleh kelima teman sekelas saya dari XI IPA 1 yaitu Muhammad Satrio Nurrahman, Norman Seno Prabowo, Ghibran Al Imran, Muhammad Zhafran Adela dan Muhammad Fikri Sudarto. Kami ber-enam memiliki misi dan tujuan yang sama yaitu pergi ke museum polri untuk mengerjakan tugas muatan lokal menjadi tour guide yang menjelaskan salah satu koleksi museum ke pengunjung lain dan dilanjutkan mencari narasumber untuk diwawancarai berkaitan dengan pengalaman sejarah. Pada tulisan ini saya akan menceritakan dan menjelaskan hasil wawancara saya bersama narasumber.

                Seusai menyelesaikan tugas menjadi tour guide yang menjelaskan tentang salah satu koleksi museum di museum polri kepada salah satu pengunjung,kami ber-enam bergegas menuju yayasan YDB yang terletak di Jl. Brawijaya Raya No 15. Yayasan YDB adalah suatu yayasan panti wreda. Harapan kami adalah kami dapat menemukan orang pelaku atau saksi sejarah yang dapat menjadi narasumber kami. Namun kami dilanda kekecewaan yang cukup besar ketika bapak Heru,petugas dari yayasan YDB menjelaskan kepada kami bahwa yayasan YDB merupakan suatu yayasan sosial yang membantu lansia. Beruntung bagi kami, ternyata bapak Heru memiliki link ke organisasi Ikatan Keluarga Pejuang Nasional Indonesia (IKPNI). Bapak Heru memberikan kami nomor telepon salah satu petugas di kantor IKPNI yang bernama Ibu Ita. Tanpa pikir panjang, kamipun langsung menelepon Ibu Ita untuk menjelaskan maksud dan tujuan kami serta menanyakan alamat dari kantor IKPNI. Setelah berhasil meyakinkan Ibu Ita bahwa tujuan kami adalah demi pendidikan, akhirnya Ibu Ita mempersilahkan kami untuk datang ke kantor IKPNI dan beliau pun memberikan alamat kantor IKPNI. Ternyata, kantor IKPNI terletak di dalam kompleks kantor Departemen Sosial yang terletak di bilangan Salemba, Jakarta Pusat. Tentunya merupakan suatu perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan dari Brawijaya di Jakarta Selatan ke Salemba di Jakarta Pusat. Namun karena kami sangat memerlukan informasi ini, akhirnya berangkatlah kami ber-enam menuju kantor IKPNI di Salemba, Jakarta Pusat.

                Seperti yang sudah diperkirakan, perjalanan dari yayasan YDB di Brawijaya menuju kantor IKPNI di Salemba menjadi suatu perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan karena jarak yang cukup jauh dan ditambah dengan kemacetan kota Jakarta. Satu jam 15 menit kemudian, kami sampai di kantor Kementrian Sosial Republik Indonesia yang mana disitu terdapat juga kantor IKPNI. Setelah memarkirkan mobil, kami berenampun segera memasuki kantor IKPNI. Kedatangan kami ternyata sudah ditunggu oleh Ibu Ita yang sebelumnya sudah kami telpon, kami pun dipersilahkan masuk ke kantor koperasi IKPNI. Beruntung bagi kami, saat itu disitu ada Bapak Daryono (cucu dari  Bapak Tirto Adhi Soerjo),Bapak Oemar (cucu dari Bapak GSSJ Ratulangie) dan Bapak Agus (anak dari Bapak Johannes Abraham Dimara). Pada kesempatan kali ini, saya berkesempatan untuk mewawancarai Bapak ir. Oemar Samuel Ichwan Ratulangie yang mana merupakan seorang cucu dari pahlawan nasional GSSJ Ratulangie atau yang biasa dikenal dengan Dr. Sam Ratulangie.

                Kesan pertama saya ketika bertemu dengan Bapak Oemar adalah beliau merupakan sosok pribadi yang ramah dan tampak ceria. Wawancara saya dengan Bapak Oemar dimulai dengan perkenalan diri kami masing-masing. Bapak Oemar merupakan Sekretaris I di susunan kepemimpinan IKPNI dan sudah cukup lama menjabat. Bapak Oemar bercerita cukup banyak mengenai organisasi IKPNI dan segala kegiatannya sebelum pada akhirnya sampai pada tujuan awal saya datang jauh-jauh ke IKPNI, yaitu untuk mengorek informasi dan biografi kakek dari Bapak Oemar yaitu Bapak Dr. Sam Ratulangie.

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890 dan meninggal dunia pada  30 Juni 1949 di Jakarta pada umur 58 tahun. Beliau juga merupakan seorang politikus Minahasa.

                Meskipun tidak mengenal langsung Dr.Sam Ratulangie karena beliau sudah meninggal dunia ketika Bapak Oemar dilahirkan, Bapak Oemar tampak mengenal benar sosok Dr.Sam Ratulangie. Cerita-cerita tentang Dr.Sam Ratulangie diturunkan oleh kedua orangtuanya dan dari neneknya Bapak Oemar atau istri dari Bapak Dr. Sam Ratulangie. Hal pertama yang Bapak Oemar ceritakan kepada saya adalah betapa pintarnya dan betapa ambisiusnya bapak Dr.Sam Ratulangie dari sejak usia muda. Bapak Dr. Sam Ratulangie bahkan dapat menghitung biji jagung yang digenggamnya tanpa harus melihatnya dan juga Dr. Sam Ratulangie dapat mengukur ketinggian suatu pohon hanya dengan mengira-ngiranya menggunakan sebuah batang pensil kayu. Selain itu, Bapak Dr. Sam Ratulangie juga merupakan orang pertama di Indonesia yang meraih gelar doctoral matematika. Sifat ambisius Dr. Sam Ratulangie terlihat dari bagaimana begitu beraninya ia menggunakan kata “Indonesia” jauh sebelum negara Indonesia merdeka. Pemakaian kata “Indonesia” sangat menarik bagi masyarakat.

                Pada tahun 1920an, Dr. Sam Ratulangie mendirikan suatu perusahaan bernama “Maskapai Asuransi Indonesia” di Bandung. Hal ini membuat Dr. Sam Ratulangie sebagai orang yang mensosialisasikan penggunaan kata Indonesia khususnya di bidang wirausaha. Penggunaan kata ‘Indonesia’ pada suatu nama perusahaan yang mana bukan merupakan suatu hal yang umum pada masa itu, menarik perhatian seorang pemuda bernama Soekarno yang secara tidak sengaja dengan sepedanya melewati kantor Maskapai Asuransi Indonesia kepunyaan Dr. Sam Ratulangie ini. Hal ini lah yang menjadi penyebab pertemuan antara Dr. Sam Ratulangie dengan bakal proklamator dan bakal presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Pada saat itu Ir.Soekarno yang tengah melangsungkan pendidikan tingginya di Technisce Hooge School (sekarang dikenal dengan sebutan Institut Teknologi Bandung atau ITB) secara tidak sengaja dengan mengayuh sepeda ontel miliknya berjalan melewati Maskapai Asuransi Indonesia milik Dr. Sam  Ratulangie, rasa penasaran yang sangat tinggi membuat Ir. Soekarno tanpa berpikir panjang langsung menaruh sepedanya dan masuk ke kantor Maskapai Asuransi Indonesia. Ir.Soekarno memanggil Dr. Sam Ratulangie dengan sebutan ‘old hair’ atau bapak tua karena usia Ir.Soekarno dan Dr. Sam Ratulangie yang terpaut cukup jauh yaitu sekitar 20 tahun.

                Bukti Kejeniusan Dr. Sam Ratulangie adalah selain mahir di bidang ilmu pasti atau matematika, beliau juga mahir di bidang sastra belanda. Hal yang cukup lucu dari sosok seorang  Dr. Sam Ratulangie muda yang sangat membenci belanda namun ketika di sekolah belanda, Dr. Sam Ratulangie memperoleh nilai yang lebih tinggi ketimbang murid belanda sendiri dalam mata pelajaran sastra belanda. Bapak Oemar bercerita bahwa pernah ada teman dari Dr. Sam Ratulangie yang bercerita kepadanya bahwa Dr. Sam Ratulangie dari sejak duduk di bangku pendidikan hingga memasuki dunia kerja selalu mendapat perlakuan berbeda berkat kejeniusan beliau. Kutipan kata kata dari Dr. Sam Ratulangie yang sangat diingat oleh Bapak Oemar adalah “Untuk bisa melawan penjajah,kita harus lebih pintar dari penjajah”. Kata-kata diatas menjadi prinsip utama yang dipegang teguh oleh Dr. Sam Ratulangie. Selain itu, Dr. Sam Ratulangie juga memiliki satu filsafat yang sangat terkenal, yaitu "Si tou timou tumou tou" yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

                Ketika Kedua orangtuanya meninggal dunia, Dr. Sam Ratulangie menjual rumah tinggalnya dan menggunakan uang hasil penjualan rumah tersebut sebagai modal bagi beliau untuk berangkat ke negara Belanda guna melanjutkan tingkat pendidikan sarjana nya. Di Belanda, Dr. Sam Ratulangie berada di satu kelas yang sama dengan salah satu komandan Hindia Belanda. Terjadi persaingan yang sengit baik di bidang akademis maupun di bidang non- akademis antara Dr. Sam Ratulangie dan komandan Hindia Belanda tersebut. Di Belanda, Dr. Sam Ratulangie memperoleh perlakuan yang bersifat diskriminatif. Dr. Sam Ratulangie dipersulit langkahnya untuk meneruskan pendidikan S2nya.  Akhirnya Dr. Sam Ratulangie memutuskan untuk hijrah dari Belanda menuju Swiss agar dapat melanjutkan pendidikannya dengan lancar tanpa hambatan. Lancarnya pendidikan S2 dan S3 Dr. Sam Ratulangie di Swiss tak lepas dari bantuan Mr. Abendanon yang mana merupakan seorang menteri kebudayaan, agama dan kerajinan Hindia Belanda.

                Saat melangsungkan pendidikan di Belanda, Dr. Sam Ratulangie menjadi ketua pimpinan organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda atau pada masa itu disebut Indische Vereniging dan saat di Swiss Dr. Sam Ratulangie menduduki jabatan ketua pimpinan organisasi mahasiswa yang berasal dari asia atau pada masa itu disebut Association d’ Etudiant Asiatiques. Teman-teman Dr. Sam Ratulangie di Association d’ Etudiant Asiatiques pada akhirnya banyak yang menjadi pemimpin di negaranya masing-masing, antara lain Jawaharlal Nehru yang menjadi pemimpin India dan Tojo yang menjadi perdana menteri Jepang semasa perang dunia kedua. Di universitas di Swiss itu Dr. Sam Ratulangie berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan mendapat gelar Doctor dalam ilmu pasti atau matematika dan ilmu pengetahuan alam. Setelah menyelesaikan studinya di Swiss, Dr. Sam Ratulangie pulang kampung ke Indonesia. Sepulangnya ke Indonesia, Dr. Sam Ratulangie bekerja menjadi tenaga pendidik atau guru di sekolah sederajat SMA dan STM. Namun tak bertahan lama, hanya sekitar 3 tahun saja Dr. Sam Ratulangie bekerja menjadi pengajar sebelum akhirnya pindah ke bandung pada tahun 1922 dan membangun Maskapai Asuransi Indonesia bersama dengan Dr. Tumbelaka. Pemakaian kata “Indonesia” sangat menarik bagi masyarakat dan itulah untuk pertama kalinya nama “Indonesia” digunakan sebagai sebuah nama untuk menggantikan nama “Hindia Belanda”.

                Dr. Sam Ratulangie tergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau pada jaman dahulu juga disebut dengan Dokuritzu Zyunbi Iin Kai. Dr. Sam Ratulangi dianggap sebagai tempat berkeluh kesah dan menyampaikan aspirasi masyarakat dari timur Indonesia. Terlebih saat perancangan preambule UUD ’45,terdapat nada keberatan dari masyarakat Indonesia bagian timur dan rekan-rekan mahasiswa karena adanya unsur unsure islam yang tersurat dalam preambule tersebut sedangkan mayoritas masyarakat Indonesia timur bukanlah penganut agama islam seperti di Bali, Maluku, Manado dan lain-lain. Akhirnya Dr. Sam Ratulangie berdiskusi dengan tokoh petinggi islam pada masa itu yaitu H. Agus Salim dari Sumatera Barat dan Muhammad Hasan dari Nangroe Aceh Daroessalam. Dr. Sam Ratulangie bertanya “apakah bila negara yang penduduknya mayoritas islam,bentuk negara yang harus terwujud adalah negara islam?” ternyata baik  H. Agus Salim maupun Muhammad Hasan menjawab “tidak”. Jawaban dari H. Agus Salim dan Muhammad Hasan ini menimbulkan secercah harapan akan terwujudnya suatu negara nasional.
               
                Dr. Sam Ratulangie lalu memerintahkan kepada rekan-rekan mahasiswa untuk me-lobby Muhammad Hatta karena siding pengesahan preambule akan segera dilaksanakan. Ternyata usaha dari mahasiswa ini berhasil, Muhammad Hatta memaklumi persoalan yang terjadi. Akhirnya pada saat sidang pengesahan preambule, Muhammad Hatta mengesahkan preambule yang sudah direvisi yang sudah tidak ada unsur-unsur islamnya. Penghilangan unsur-unsur islam dalam preambule untuk mencegah pecahnya dan keluarnya wilayah-wilayah dari Indonesia Timur hanya karena perbedaan agama dan kepercayaan.

                Dr. Sam Ratulangie selain berperan dalam perencanaan kemerdekaan dan politik Republik Indonesia, beliau juga berperan dalam memajukan pers dan media di Indonesia. Dr. Sam Ratulangie banyak menerbitkan buku-buku hasil karya tulisnya sendiri. Selain itu Dr. Sam Ratulangie juga pernah berkecimpung di jawatan perkereta apian dan Dr. Sam Ratulangie juga pernah menjadi gubernur Sulawesi. Pada masa itu provinsi Sulawesi meliputi  1 pulau Sulawesi tanpa terpecah-pecah  menjadi beberapa provinsi seperti sekarang dan Dr. Sam Ratulangie juga menjabat sebagai gubernur untuk jangka waktu yang cukup lama.

                Demikian Biografi singkat Dr. Gerungan Saul Samuel Jacub Ratulangie yang mana merupakan seorang pahlawan nasional yang jasanya bisa kita kenang hingga sekarang. Semoga apa yang saya tulis ini bisa bermanfaat di kemudian hari. Amin





No comments:

Post a Comment