Sunday, 23 June 2013

Tugas 2 - Biografi Dwiki Syahbana XI IPA 3


"Mahili Gaffar, Pembebasan Tanah AU-Surabaya"
            Penundaan adalah akar dari segala kemiskinan. "Janganlah lagi Anda mencari-cari alasan untuk menjadikan penundaan dan keraguan Anda seperti sesuatu yang benar. Tidak ada hidup yang bisa menjadi benar, jika diisi dengan penundaan dari tindakan yang benar. Buktikanlah kasih sayang Anda kepada diri sendiri dan kepada mereka yang menyandarkan harapan baiknya kepada baiknya keputusan Anda. Jadilah pribadi yang ringan dan mudah untuk melakukan yang diketahuinya harus dilakukannya. Jadilah pribadi yang membanggakan." Besar sekali hikmah yang dapat saya petik dari tugas yang diberikan saat ini. Ketidak disipilanan adalah sosok yang tidak diharapkan dalam kehidupan. Pengahambat segala kemajuan, dan merendahkan segala sisi pandangan. Khusus terhadap penulis. Besar harap penulis mohon maaf atas kendala dalam penulisan artikel ini, terimakasih.
            BIOGRAFI
             Mahili Gaffar lahir di Bukit Tinggi pada hari senin,  1 Mei 1931. Memiliki 4 karunia anak dan seorang istri alm. Nur Asni yang beliau sayangi. Beliau adalah sarjana pada Institut Agama Islam Negeri(IAIN) yang sekarang biasa kita kenal dengan Universitas Islam Negeri(UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat itu beliau belajar  pada ilmu Perbandingan Agama yang terfokus pada Ilmu Dakwah. Kakek adalah seorang yang dulu terbilang pujaan wanita. Juga Nenek yang pada saat itupun bisa dibilang pujaman laki-laki pada sebayanya. Nenek adalah sosok  luar biasa dalam keluarganya, sebgai istri maupun sebagai ibu rumah tangga. Ia adalah wanita yang selalu memberikan semangat dan perhatian penuh kepada kakek. Sampai kakek menyelut dalam ceritanya kepada saya,  "semut tarinjak patah tigo, alu tatarung andak mati", itu adalah  sosok nenek jika gambarkan dalam bahasa.
            Kisah cinta, serta kenangan beliau bermula dari pendidikannya di IAIN Yogyakarta. Merupakan keinginan kakek sendiri dalam perndidikan di IAIN.  Namun, dengan begitu ia memantapkan diri untuk meminang istri sembari ia menyelesaikan skripsinya. setelah Beliau kembali ke Bukit Tinggi untuk melamar, ia memantapkan diri untuk kembali ke Yogyakarta dalam menjalin cintanya dengan nenek.
Bersama kakek Mahili Gaffar(tengah), nenek, dan keluarga
            Setelah menikah kakek melanjutkan skripsi yang tertunda saati itu. Selesainya skripsi yang ia buat di IAIN, ia mencba melamar kerja di ABRI-AU (angkatan bersenjata Republik Indonesia). Tidak terfokus pada medan pertempuran, melainkan kakek ditugaskan sebagai perwira kerohanian dengan latar ilmu permbandingan agamanya yang baru ia dapatkan.
            Setelah 2 periode, kurang lebih sekitar 10 tahun ia menjadi perwira. Kakek ditugaskan untuk masuk ranah DPR di Magetan, Jawa Timur. Selama 2 periode, kurang lebih 10 tahun ia menjabat, ia dipindah tugaskan ke MAKODIK (Markas Komando Pendidikan AU) Surabaya, juga merangkap berperan di LANUD (Pangkalan Angkatan Udara) Surabaya.
            Di tempat ini ia mendapat pengalaman yang tidak terlalu besar namun cukup terkenang dalam ceritanya. Masih penjadi PAROH(Perwira Rohani) ia di MAKODIK, namun dalam markas pendidikan ini beliau juga mengambil peran dalam pengujian mental perwira baru yang masuk. Di LANUD sendiri, ia ditugaskan menjadi pengrus persertifikatan TNI-AU.

            PERAN
            Kisah besar kakek bermula pada tugas yang diembannya di LANUD Surabaya. Singkat cerita,Terdapat sengketa tanah milik TNI-AU saat itu yang hingga sekian lama tidak dapat diselesaikan. Tanah TNI-AU sendiri terbilang sangat luas besarnya, namun belum legal karena setiap hastanya tidak diseertifikasi menjadi hak milik negara agar bisa digunakan.
            Dalam kepengurusan TNI sendiri, terdapat badan yang yang disebut perwira hukum yang memutus setiap perselihan hukum TNI. Namun dalam kasus perselisihan tanah negara ini, mereka tidak bisa menyelesaikannya setelah bertahun-tahun. Tidak jelas apa kendala mereka, dan mengapa. Namun kemudian, kakek yang berbeda tugas dengan perwira hukum, atas dasar pengalaman kake di DPR  ia ditugaskan untuk menyelesaikan perkara yang telah sekian lamanya tidak diselesaikan. Melalui perwira hukum, komandan besar pangkalan yang saat itu Bpk. Suhiyar, meminta tolong kepada kakek untuk segera menyelesaikan sengketa ini. Dengan komitmen kakek bersedia, maka saat itu juga ia berangkat kelapangan dan menyelesaikan tugasnya.
            Dengan segera kakek menyelesaikannya. Dengan cekatan kakek mengumpulkan data-data, menjalin hubungan dengan pertanahan nasional, membuat sertifakat, memutus perkara. Dan dengan dibantu oleh orang dari Pertanahan Nasional dalam beberapa waktu setelah bertugas, kakek dapat menyelesaikan 90% lebih jumlah tanah yang disertifikasi. Berkisar ratusan hektar yang telah ia bebaskan kepemelikannya menjadi tanah negara. Di sebutnya sekitaran, Surabaya, Sidoarjo, Modjokerto, Jombang, Madura, dll. Suatu kebanggaan dalam ingatan kakek walau tidak cukup besar jika disebut setarakan dengan perjuangan nasional.
Namun walau ia tidak terjun langsung dalam medan perang dan memiliki bekas kepahlawanan negara, ia dapat membebaskan tanah  yang begitu luasnya untuk sekarang dijadikan tempat pendidikan TNI-AU, landasan helicopter, juga perumahan.
     Di balik kehidupannya sebagai seorang perwira, kakek Mahili juga memiliki jiwa agamis yang tinggi. Karena tidak ingin sia-sia ilmu yang telah ia dapat di IAIN Salah satunya ia wujudkan dalam dakwah yang selama ini kumandangkan.
     Demikian cerita singkat tentang perjalanan hidup Kakek Mahili Gaffar yang bisa didapatkan dari wawancara saya. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, sekian terimakasih.  

No comments:

Post a Comment