Saturday, 1 June 2013

Tugas-2 Biografi Excelita Syahrani


Saya mewawancarai satu-satunya eyang saya yang masih ada. Namun kondisinya saat ini tidak begitu sehat, beliau sangat sulit untuk berbicara, bahkan bernafas pun terlihat susah sekali. Menjadwalkan wawancara ini saja membutuhkan waktu satu minggu untuk memastikan bahwa kondisi beliau siap untuk memberi tanggapan terhadap orang lain. Ketika saya mewawancarainya, beliau ditemani oleh putra sulungnya, yakni om saya. Tidak banyak yang bisa diceritakan mengingat kondisi eyang saat ini, namun saya tetap akan menuangkan seadanya dalam tulisan ini.
Eyang Kung dan para cucunya.Tebak saya yang mana.
Pria yang saya panggil dengan sebutan Eyang Kung ini bernama asli Yusuf Ganda, lahir di Bogor tanggal 11 April 1926. Saya tidak tahu kenapa para cucunya dibiasakan untuk memanggilnya Eyang Kung, untung bukan Eyang Subur. Beliau adalah ayah dari ibu saya Yumeilani Shinta Dewi atau biasa dikenal dengan nama Lani Ganda. Ya, keluarga saya adalah keluarga Ganda, semua anak Eyang Kung mempunyai nama publik dengan kata belakang Ganda, sedangkan nama asli biasanya hanya diketahui oleh keluarga. Dulu saya sempat takut nama saya juga akan menjadi Excel Ganda, tapi saya ngotot bahwa nama saya sudah keren apa adanya. Dari kecil Eyang dididik dengan cara yang keras dan disiplin sehingga tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Eyang memiliki kuasa terbesar dalam keluarga saya, namun selama 8 tahun terakhir ini kondisi Eyang memburuk. Hal itu sama sekali tidak mengurangi sifat kerasnya.

Setelah lulus SMA di Jawa tengah, Eyang menjadi relawan tentara di usianya yang baru 18 tahun. Ketika mendaftar Eyang sangat kaget bahwa ternyata calon tentara perlu membayar sejumlah uang. “Saya perang kok diminta bayar, saya kan bayar dengan nyawa.” Seperti itulah respon beliau. Akhirnya Eyang Kung dan kawan-kawan tidak perlu membayar biaya pendaftaran calon tentara.

Eyang Kung dulu terkenal supel dan pandai berkawan. Meski tidak menjadi orang terkenal, Eyang banyak kenalan dengan tokoh-tokoh nasional Indonesia. Eyang juga bersahabat dengan seorang jendral. Suatu waktu sang jendral mengajak Eyang Kung mencuri kuda dari sebuah kompleks Belanda dan berhasil. Kuda itu diberikan kepada markas TNI di masa itu.
Pada jaman dulu, orang sering mendatangi kyai untuk minta dibekali ilmu dan doa, terutama para tentara yang akan pergi berperang. Sebagai orang banten, banyak orang mengira Eyang memiliki ilmu yang sakti. Tiba-tiba seorang teman Eyang iseng mengambil samurai dan mencoba menebas kaki beliau! Ternyata kaki Eyang baik-baik saja. Heran kan? Saya dan om saya juga heran. Selain itu Eyang Kung juga pernah ikut menyerbu gedung studio perfilman jepang di Jalan Otista yang kini menjadi Perusahaan Film Negara (PFN), itu sebabnya seusai menjadi tentara beliau bekerja di PFN.

Tahun 1952 ketika perang sudah selesai, Eyang disekolahkan oleh PFN ke amerika selama setahun, Selama di PFN, beliau sempat menjadi juru kamera dokumentasi Konferensi Asia Afrika di Bandung. Pernah juga menemani Ir. Soekarno pergi haji, dan juga selama beberapa waktu mewakili TVRI menjadi juru dokumentasi pribadi Moh.Hatta.
Suatu waktu ketika berobat di solo, Eyang terpesona pada seorang wanita. Tanpa ragu-ragu beliau terus mengejar wanita tersebut. Karena memiliki hubungan yang baik dengan petinggi-petinggi PFN, beliau bercerita kepada seorang petinggi KASAO mengenai wanita ini. Ia pun akhirnya diantar gratis dengan pesawat ke solo untuk melamar wanita tersebut. Wanita tersebut adalah nenek saya. Setelah menikah, Eyang berhenti bekerja di PFN kemudian menetap di Jakarta.

Tidak banyak yang cerita yang bisa Eyang Kung bagi kepada saya. Tulisan ini hanyalah potongan-potongan kecil dari ingatan yang ia miliki sekarang. Namun saya percaya bahwa semua pengalaman dan kenangan seperti apapun rupanya, pasti memiliki makna yang bisa dipetik. Karena itu saya harap potongan kisah hidup eyang saya ini bisa bermanfaat.

No comments:

Post a Comment