Saturday, 1 June 2013

Tugas-2 Biografi Mohammad Andri Khaeranu XI IPA 3


Eyang Moeladi, Dari Solo hingga kembali ke Solo

Dari dulu, saya selalu menyukai dan menghormati orang yang bekerja di “balik layar”.  Bagi saya, orang-orang inilah yang paling berjasa dalam suatu hal, mereka seperti tulang belakang suatu pekerjaan. orang-orang yang bekerja di belakang layar ini tidak berkontribusi pada suatu pekerjaan secara langsung, orang tersebut tetap merupakan menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut, seakan tanpanya, mungkin pekerjaan tersebut tidak akan 100% berhasil atau bahkan tidak berhasil sama sekali. Seperti misalnya sebuah pentas drama, tentu drama tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya teknisi untuk suara,pencahayaan,dll.
                                      
Pada kesempatan kali ini, saya diberi tugas yaitu untuk mencari dan mewawancari saksi sejarah dan menanyakannya mengenai biografi dan peranan atau kesaksian atas sejarah berskala nasional. Saya akhirnya memutuskan bahwa yang ingin saya bicarakan dan tampilkan untuk tugas ini adalah almarhum kakek saya sendiri yaitu almarhum eyang moeladi yang merupakan ayah dari ibu saya. Selain untuk menyelasaikan tugas sejarah, saya juga memilih menulis tentang beliau karena untuk mengenang 2 tahun kepergian beliau. Karena beliau sudah tidak lagi bersama kita maka saya mewawancarai Adik beliau yang juga kakek saya yaitu eyang Petrus Wismadi dan juga istri eyangkung yaitu nenek saya sendiri ibu Caeciliah Sutardjiah.
Foto bersama narasumber, eyang wismadi


Biografi

Tidak banyak yang dapat diceritakan mengenai masa muda Alm. eyang Simon Petrus Michael Moeladi atau yang akrab dipanggil oleh cucu-cucu nya eyang Moeladi atau Eyangkung, beliau lahir pada tanggal 29 Desember 1941 di daerah Solo. Beliau bersekolah hingga SMA di solo, setelah menamatkan SMA beliau mendaftarkan diri di Akademi Angkatan Udara (AAU) di panasan yang terletak di dekat bandara, setelah itu beliau berpindah ke daerah Yogyakarta. Disinilah beliau bertemu dengan nenek saya yang biasa dipanggil oleh saya “ibu sisil” atau “eyangti”. Diceritakan pada buku “50 Tahun Pengabdian Warga Kalipepe 1961-2011” mereka bertemu ketika eyang memberikan surat   dan menikah pada tanggal 17 April 1966.  Beliau di Yogya pertama kali tinggal di rumah kontrakan di Pojok Beteng. Lalu berpindah ke ngadiwinatan dan tinggal disana untuk beberapa tahun. Dan akhirnya mendapat rumah dinas di Adisucipto dan tinggal disana. Dari Adisucipto beliau pindah ke bandung pada tahun 1977.

Pada saat ini, beliau sudah memiliki 4 orang anak (termasuk ibu saya yang merupakan anak ke 2). Disana beliau bertempat di daerah Cibereum selama 2 hingga 3 tahun. Lalu berpindah ke komplek AURI Husein Sastranegara. Beliau juga pernah tinggal di Wisma Angkasa Jalan Setiabudi dan mendapat 2 kamar karena membawan 4 anak. Di Bandung sebelum beliau pindah untuk terakhir kalinya di angkatan udara, beliau belajar terlebih dahulu di sesko (Sekolah Komando) di bandung pada saat berpangkat kapten dan naik ke mayor. Hingga akhirnya menjadi letkol. Pada tahun 1980 beliau bersama keluarganya akhirnya pindah ke Kompleks TNI AU Halim Perdanakusuma (dekat bandara Soekarno-Hatta) di Jakarta karena beliau mendapat tugas dinas di SEKKAU (Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara) sebagai dosen dan mengajar di sana. Ketika beliau dipindahkan ke Staf Deputi Personil beliau mulai merasa tidak nyaman. Pada tahun 1985 beliau mengajukan pensiun dini dan meminta untuk dikaryakan (yaitu mengundurkan diri dan bekerja di perusahaan swasta) karena selain merasa tidak nyaman, pendapatan beliau di AURI tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari, belum lagi beliau mempunyai 4 orang anak dan sudah mau masuk ke perguruan tinggi. Pendapatan beliau hanya sekitar 500rb dan di sekolah ibu saya dan saudara-saudaranya, untuk satu orang dikenakan biaya 50 ribu. Permintaan pensiun itu dikabulkan pada tanggal 29 Maret 1985 pada pangkat Letkol Teknik.

Lalu eyangkung diperkerjakan di PT Bangun Panca Sarana Abadi, di bidang pembangkit listrik diesel. Di pekerjaannya yang baru ini beliau merasa cocok di perusahaan tersebut sehingga beliau aweing ditugaskan di luar negeri seperti misalnya Swiss dan Perancis. Di perusahaan tersebut, beliau diangkat menjadi GM (General Manager). Setelah 5 tahun mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Di selang waktu tersebut hubungan antara eyang dengan eyangti memburuk dan akhirnya mereka berpisah. Pada tahun 1991 nenek saya memebesarkan anak-anak beliau sendiri dengan apa yang ada dan bekerja sebagai catering dqan membuat kue-kue. Oleh karena itu tidak banyak yang diketahui mengenai eyang karena beliau jauh dari keluarga, meskipun beliau mencoba membina rumah tangga dengan nenek saya namun sayangnya gagal.

Kalau tidak salah, setelah beliau mengundurkan diri dan berpisah dengan eyangti, beliau kembali bekerja di Solo, eyangkung juga bekerja sebagai pendeta. Hingga sebelum beliau meninggal. Jika beliau memiliki waktu luang, beliau akan berkunjung ke rumah nenek saya yang saat ini di daerah tangerang untuk melihat cucu-cucunya. Pada bulan Mei tahun 2011, beliau mengalami kecelakan motor di Solo hingga akhirnya beliau harus dirawat di rumah sakit yang ada disana. Kondisi beliau sempat membaik, namun akhirnnya kondisi beliau menurun drastis. Beliau meninggal pada tanggal 28 Mei 2011 di Solo, dan dimakamkan di Pemakaman Sandiego Hills di Karawang.

Peranan

Sama dengan masalah di bagian biografi sebelumnya. Tidak banyak yang dapat diceritakan mengenai peranan eyangkung di masa Ketika beliau kerja di AURI karena sumber yang saya wawancarai yaitu adik beliau tidak mengikuti eyangkung hingga ke AURI. Peranan berikut yang akan saya paparkan adalah cerita yang sering dibicarakan oleh eyangkung ke anak-anaknya dan juga ke istrinya yaitu eyangti. Sebelum pesawat digunakan, tentunya harus diperiksa terlebih dahulu kesehatan pesawat tersebut sebelum lepas landas agar tidak terjadi masalah ketika pesawat tersebut diterbangkan. Itulah tugas dari seorang teknisi AURI. Eyangkung adalah seorang teknisi terakhir berpangkat Letkol Teknisi yang bekerja di AURI dan bertugas di berbagai tempat. Utamanya, tugas beliau adalah memeriksa pesawat yang di kandangkan (Grounded) untuk masalah-masalah yang tampak maupun tak tampak pada pesawat tersebut. Setiap pesawat, Beliau juga bertugas membeli pesawat dari luar negeri. Contohnya adalah beliau membeli pesawat dari Amerika Serikat, yaitu pesawat OV-10 Bronco dan pesawat latih Beechcraft T-34C yang beliau beri nama pesawat tersebut dengan nama memperingati anak ke-4 beliau yang baru lahir. Beliau juga pernah ditugaskan ke Russia, untuk memeriksa pesawat-pesawat dan membeli pesawat yang terdapat disana. Waktu itu beliau ditawarkan kerja sebagai ahli di sana karena berhasil menemukan suatu kesalahan fatal yang terdapat pada pesawat yang ada disana, namu eyangkung menolak tawaran tersebut. Eyangkung juga pernah bersekolah di Amerika Serikat pada saat saat beliau masih berpangkat mayor dan waktu itu eyangkung masih berada di Adisucipto dan menjadi salah satu perwakilan Indonesia bagian teknisi untuk mengikuti program yang diadakan oleh Beech Aircraft Company di Kansas. Eyangkung pernah menjadi komandan skuadron teknis yang melatih para penerbang pemula dan juga menguji coba pesawat tempur yang baru. Hingga akhir karirnya di AURI dari tahun 1980 sampai sebelum beliau pensiun dini pada tahun 1989. Beliau bekerja sebagai dosen di Sekkau dan mengajar disana.

Saya sendiri sejujurnya tidak sering bahkan jarang sekali bertemu dengan eyangkung sebelumnya, karena pada saat eyangkung datang ke Jakarta dari pekerjaannya di Solo untuk menemui keluarga kami, kebetulan saya dan keluarga saya sedang ada acara keluarga atau halangan lainnya. Saya baru bertemu dengan eyangkung secara rutin (sekitar 6 bulan sekali) pada saat saya menduduki bangku SMP kelas 2. Eyangkung memiliki hobi ketika waktu SMA nge-“band” dengan teman-temannya. Eyangkung juga memiliki hobi bermain golf, dan penghargaan-penghargaan dari permainan golf dapat terlihat di atas lemari diruang keluarga rumah eyangti di tangerang bersebelahan dengan replica model pesawat yang dibeli oleh eyangkung. Eyangkung merupakan angkatan ke-17. Hal terakhir kali yang saya ingat sebelum eyangkung meninggal adalah ketika beliau menginap untuk yang pertama dan terakhir kalinya di rumah saya.

            Eyangkung adalah orang yang dikenal dengan sifat sangat disiplin terhadap anak-anaknya, meskipun mereka semua wanita. Eyangkung selalu mengajarkan anak-anaknya untuk dapat berdiri sendiri tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Dulu kehidupan eyangkung dengan eyangti tidak lah kehidupan yang layak. Terutama setelah eyangkung berpisah dengan eyangti. Mungkin karena itu, semua anak-anak eyangkung termasuk ibu saya tergolong sukses dan hidup berkecukupan bahkan mewah, mereka sangat mensyukuri apa yang telah didapatkan mereka mengingat sebelumnya mereka hidup kurang mampu. Mungkin jika eyangkung tidak menerapkan sifat disiplin seperti sekarang, saya dan keluarga saya tidak akan hidup seperti sekarang. Meskipun eyangkung bersifat keras di satu sisi, disisi yang lain eyangkung bisa menjadi sosok ayah dan kakek yang baik dan penyayang. Dari yang saya lihat, Eyangkung menyayangi anak dan cucunya, begitu pula sebaliknya, ketika eyangkung meninggalkan dunia ini , eyangti dan anak-anaknya sangat merasa kehilangan.

Meskipun eyangkung tidak berpatisipasi secara langsung dalam misi militer dan lain sebagainya, eyangkung berkontribusi dengan menambah kemungkinan berhasilnya suatu misi, yaitu dengan cara memeriksa dan membenarkan pesawat jika ada suatu cacat atau kesalahan secara teknis. Tentu saja saya sebagai seorang cucu, bangga kepada eyangkung yang telah menjadi seorang teknisi dari angkatan udara. Eyangkung adalah seorang  Ayah dan Kakek yang akan selalu disayangi dan dikenang anak cucunya atas jasa-jasa beliau. Saya berharap kedepannya, saya dapat memberi kontribusi yang berguna untuk Negara ini dan dapat membanggakan keluarga saya seperti eyangkung.

Saya memohon maaf atas keterlambatan mem ”publish” postingan ini karena penulis kesulitan mencari sumber. Saya juga memohon maaf jika ada ketidakpastian terhadap peranan dan biografi eyangkung.

Sumber Pustaka:
“50 Tahun Pengabdian Warga Kalipepe 1961-2011 Buku 1 dan 2”

Surat dari Beech Aircraft Company
Eyangkung di Amerika (pojok kanan)



Pesawat Beechcraft Model T-34C

Foto bersama eyangkung dan eyangti

Meninggalnya Eyangkung

Medali yang diberikan kepada eyangkung

Foto keluarga sebelum saya lahir



No comments:

Post a Comment