Sunday, 2 June 2013

Tugas 2 - Biografi Pradipta Kartika Kirana XI IPA 3

     "Dari Lembah Tidar, Untukmu Ibu Pertiwi"

Letjen (Purn.) TNI Soeripto

Soeripto namanya, lebih akrab kami sekeluarga panggil dengan sebutan eyang kakung. Eyang Soeripto lahir di Temanggung, 18 November 1935. Beliau dibesarkan di daerah Temanggung bersama 8 saudaranya. Eyang Soeripto merupakan anak terakhir (bungsu) dari 9 bersaudara. Ibu dari Eyang Soeripto bernama RR Subandiyah (masih ada garis keturunan dari PB V Solo), dan ayahnya, seorang Mantri Polisi di Karesidenan Kedu yang bernama Mahyat Tjokrosupadmo. Anak yang cukup banyak untuk diurus, tetapi orang tua Eyang Soeripto tidak melupakan akan pendidikan anak-anaknya. Eyang Soeripto masuk SD lalu berlanjut ke SMP pada tahun 1951 hingga lulus dan melanjutkan ke SMA dan berakhir di tahun 1956.

Sedikit Mengenai Eyang Soeripto
Riwayat Pendidikan
Universitas Gadjah Mada (karena kondisi ekonomi yang tidak memadai akhirnya memutuskan untuk sekolah militer di AMN) (1958)
Militer: AMN (1960), Sarbang If (1961), Kupaltu If (1965), Suslapa (1968), Seskoad (1973), Seskogab (1975), Susyawan (1978)

Riwayat Kepangkatan
Letda (1960), Lettu (1964), Kapten (1967), Mayor (1971), Letkol (1973), Kolonel (1978), Brigjen (1983), Myajen (1985), Letjen (Hor) (1997)

Riwayat Jabatan
Dan Ton (1961), Dan Ki Bantuan (1962), Dan Ki Senapan (1963), Dan Ki Taruna (1963), Dan Ki Senapan (1965), Pasi 2 Yonif (1967), Wadan Yonif (1968), Dan Yonif (1968), Dan Dim (1973), Asisten Intel Dam XVII/Irja (1974), Waka Despenad (1977), Asisten Intel Dam VI/SLW (1988), Asisten Intel Kowilhan I (1981), Kasdam XII/Tanjungpura (1982), Kas Kostrad (1982), Pangdam III/17 Agustus (1983), Pangdam I/BB (1985), Pang Kostrad (1986), Ketua Fraksi ABRI DPR (1987), Gubernur KDH TK I Riau (1988-1998)

Riwayat Penugasan
Operasi DI/TII (1961), Penumpasan G 30 S/PKI (1965-1966), OPS Irian Jaya (1973-1977), Penugasan ke Malaysia (1975), OPS-OPS Intel (1978-1982), Penugasan ke Vietnam (1986), Penugasan ke Austria dan Rumania (Delegasi DPR) (1987), Penugasan ke Taiwan, Jepang, Korea, AS (1992)

Tanda Jasa dan Penghargaan
Satyalencana GOM V (1961), Satyalencana Dwija Sistha (1966), Satyalencana Penegak (1967), Satyalencana Raksaka Dharma (1977), Satyalencana Kesetiaan VII, XVI, XXIV (1984), Bintang Kartika Eka Pakci Pratama (1986), Bintang Kartika Eka Pakci Nararya (1988), Bintang Maha Putra Utama (1997)

Acara Perwira Angkatan '60 AMN (29 Januari 2000)
Wisma Persada Halim Perdana Kusuma
Pertemuan Paguyuban Kompi Sudirman
 (Bandung, 28 Februari 1999)
Eyang Kakung: ketiga dari kiri

Catatan di Balik Tugas
  September 1957, mulailah 60 calon Taruna Akademi Militer Nasional Angkatan ke IV dilatih, dan pada tanggal 20 Desember 1930, 53 Taruna dilantik menjadi Letnan Dua oleh Presiden Soekarno. Pelantikan dilaksanakan di kampis Akademi di kaki Gunung Tidar, Magelang.
Eyang Soeripto termasuk salah seorang Perwira yang masuk dalam Corps Infanteri bersama 12 orang rekan lainnya. Pada bulan Januari 1961 mulailah Eyang Soeripto dan ke-12  temannya mengikuti pendidikan Kecabangan Infanteri yakni Dasar Cabang Infanteri hingga bulan April tahun yang sama. Selanjutnya 11 orang melanjutkan ke pendidikan di Pusdik Parako di Batujajar, dengan komandannya Mayor Sarwo Edy Wibowo, Kapten Gunawan Wibisono, Komandan Dik Para dan Mayor C.I Santosa, Komandan Dik Komando. Ada dua perwira yang tidak hadir saat itu.
  Bulan September 1961, perwira infanteri disebar di seluruh Kodam di Jawa. Eyang Soeripto saat itu ditempatkan di kodam Diponegoro bersama Letda Atmanto dan Letda Wawan Suwandi. Dan yang lainnya ditempatkan di Kodam Brawijaya dan Siliwangi.
  Ketika Eyang Soeripto masuk menjadi Komanda Peleton pasukan infanteri beliau langsung mendapatkan tugas untuk diberangkatkan ke daerah operasi. Eyang Soeripto mendapat bagian ikut dalam operasi Bratayuda, dengan taktik pagar betisnya yang tidak pernah diajarkan selama di Akademi. Enam bulan naik turun gunung di Gunung Cermai. Setiap 3 minggu secara bergiliran dengan Peleton lain di Kompi, Eyang Soeripto memimpin patroli tempur mencari jejak gerombolan DI/TII. Patroli dilakukan selama 10 hari, Eyang Soeripto langsung teringat pada masa-masa ia masih Taruna.

“Benar bahwa seorang Infanterist utamanya adalah bermodal “dengkul-lutut”. Dan ternyata faktor moril juga penting, kalu dulu banyak Taruna yang ngos-ngosan waktu cross country, sekarang karena sudah menjadi komandan beneran, naik turun Gunung Cermai 6 kali lancar-lancar aja”

  Tahun 1966 Perwira-perwira Infanteri ’60 yang sudah berpangkat Lettu disebar kembali ke daerah. Lettu Edy Sudrajat dan Lettu Sembiring Meliala masuk ke RPKAD, dan Eyang Soeripto ke Kodam Jayakarta. Penugasan yang sangat lama menurut Eyang Soeripto, beliau mulai kembali menjadi Komandan Kompi Senapan Infanteri Yon 203 Aryakamuning, lalu Komandan Batalyon Infanteri 202/Tajimalela dan terkahir sebagai Komandan Kodim 0502-Jakarta Utara/Tanjung Priok.

“Kesan yang tidak terlupakan adalah ketika saya diangkat menjadi Komandan Batalyon ketika masih berpangkat Kapten Infanteri”

  Pada tahun 1974, setelah mengikuti pendidkian Seskoad tahun 1973, Eyang Soeripto ditugaskan ke Kodam XVII Cendrawasih Irian Jaya, selaku Asisten Intelijen Kodam. Banyak pengalaman tentunya pada wakti bertugas di daerah ini karena sifat khas daerah ini. Eyang Soeripto banyak berkenalan denagn missionaries kritiani, banyak mengenal saudara-saudara kita yang belum berbusana, dan juga mereka yang ingin lepas dari Negara Keseatuan RI.
  Tahun 1977, Eyang Soeripto ditugaskan untuk bertugas di Jakarta sebagai Wakil Kepasa Dinas Penerangan AD, yaitu wakil dari Brigjen Suhirno (kakak kelas beliau saat di AMN)
Tahu 1978, mendapat tufas sebagai Asisten Intelijen Kodam Siliwangi yang Panglimannya adalah Mayjen Yogi Supardi Memed. Tahun ini merupakan masa yang menyibukkan dalam tugas di daerah Jawa Barat, antara lain, gerakan mahasiswa di Bandung, gerakan sisa-sisa DI/TII kelompok Warman, gerakan Imron dengan kasus penyerangannya ke Polsek Cicendo, Pasor Kaliki, dan kasus pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla di Dong Muang, Thailand.
  Tahun 1981, Eyang Soeripto bertugas sebagai Asisten Intelijen Kowilhan I di Medan, dengan Pangkowilan Letjen Susilo Sudarman. Eyang Soeripto banyak mengenal situasi di Pulau Sumtera sampai propvinsi Kalimantan Barat, corong Natuna. Suasana betugas di Kowilhan I merupakan suasana setelah purna perang Vietnam.
  Tahun 1982, Eyang Soeripto ditugaskan kembali sebagai Kasdam XII Tanjungpura, Pontianak, emjadi kepala stafnya Brigjen Untung Sridadi, bekas pelatih semasa Taruna di Magelang. Tugas yang tercatat di sini adalah menghapuskan mixpost dan penataan perbatasan dengan Malaysia serta pemetaan topography dengan pihak Australia di daerah Kalimantan Barat.
  Pada tahun itu juga, Eyang Soeripto diangkat sebagai Kepala Staf Kostrad berpangkat Brigjen dengan Panglimanya yaitu Mayjen yang kemudian Letjen Rudini. Tugas selaku kepala staf pada wakti itu adalah mengkoordinir penyelesaian gedung Makostrad dengan museum dan gedung utamanya di Jl. Merdeka Timur Jakarta. Disini Eyang Soeripto belajar menjadi “Pimpro” yang ternyata merupakan pengalaman yang berguna di kemudian hari sewaktu menjadi Gubernur Kepala Daerah.
  Tahun 1982, Eyang Soeripto diangkat menjadi Pangdam 17 Agustus di Padang, mendampingi pak Azwar Anas yang menjadi Gubernur Sumatera Barat. Baru 3 minggu bertugas sudah harus bertanggung jawab atas keaman terselenggaranya MTQ Nasional di kota Padang yang dibuka oleh Presiden dan ditutup oleh Wakil Presiden. Beliau belajar tentang kewilayahan di daerah ini.
Mayjen TNI Soeripto (Eyang Kakung) mengunjungi pasukannya
yang sedang bertugas di Irian Jaya
 (Kampung Molof Perbatasan Irja, 1986)
  Ditengah berpangkat Mayor Jenderal pada tahun 1985, Eyang Soeripto bertugas di Medan sebagai Pangdam Sumatera Bagian Utara, yakni Pangdam pertama setelah likuidasi dari 3 Kodam: Iskandar Muda, Aceh, Bukit Barisan, Sumut dan 17 AGustus, SUmbar. Tugas utamanya aalah menata dan mengreorganisir Kodam bentukan baru.
  Tahun 1986, Eyang Soeripto diangkat menjadi Pangkostrad menggatikan Letjen Suweno dari generasi 45, sheingga memegang rantai estafet pertama sebagai Pangkostrad dari generasi pasca 45. Kostrad dibagi menjadi dua divisi dengan 1 Brigade Infanteri Linud dan Brigif di masing-masing divisi dengan Satpur, Banpur dan SatBamin. Satu grop Kopassus di Makassar menjadi bagian organic Brigif Kostrad pada saat itu.
  Pada tahun 1987, Eyang Soeripto yang berumur 52 tahun memasuki tugas di bidang legislative, menjadi ketua Fraksi ABRI di DPR, bersama Pak Subiono selaku pembinda Fraksi dan Sdr. Saiful Sulun selaku penasehat Fraksi.
Brigjen TNI Soeripto (Eyang Kakung)
selaku Pangdam III/17 Agustus
sedang melakukan kunjungan ke Solok
  Di tahun 1988, Eyang Soeripto dipilih dan diangkat menjadi Gubernur Kepala Daerah TK I Riau. Eyang Soeripto mengenal daerah ini sejak tahun 1981 ketika menjadi Asisten di Kowilhan dan sebagai Pangdam di Padang serta Pangdam Bukit Barisandi mana Riau adalah di bawah komandonya. Eyang Soeripto, berdarah asli Jawa, dilihat saja dari namanya,  pernyataan itu dinyatakan oleh banyak warga Riau yang meragukan jabatannya, mereka fikir apakah orang yang bukan berdarah asli Riau/Melayu bisa memimpin Riau. Dengan banyaknya pernyataan seperti itu, Eyang Soeripto tetap bekerja semestinya sebagai Gubernur, ia bertahan dua periode hingga tahun 1998.

Cerita Unik Selama Masa Tugas Eyang 
  1.        Eyang Soeripto sudah pernah menginjakkan kaki di empat penjuru tanah air: yaitu waktu Taruna meninjau Penjara di pulau Nusa Kambangan bagian selatan, pernah juga menginjak wilayah di kilometer 0 di pulau Sabang, nbgian paling barat di Provinsi Aceh, sewaktu menjadi asisten Kowilhan, pernah mendarat di desa Scociao di bagian Utara, Oxibil di bagian tengah, Digul dan Merauke di bagian selatan semuanya di Irian Jaya yang merupaka titik paling timur di tanah air, dan turun di Pulau Miangas, di utara Pulau Sangir Talaud, Selatan Davao Filipina, pulau paling utara Indonesia.
  2.      Pada saat ikut rombongan Pak Rudini selaku Kasad ke Vietnam tahun 1986, adalah berkunjung ke Kodam paling utara berbatasan dengan RRC. Yang mendebarkan bukan karena jalan menyusup di parit-parit garis batas, tetapi waktu toast bareng rombongan Kodama 1 Langson, Vietnam, gelas untuk toast dari botol itu berisi TOKEK. Konon termasuk obat kuat, yaahh, unutuk sopan santun dicicpi saja, tetapi teman-teman ada yang langsung meneguk saja.
  3.    .       Pada waktu di DPR, Eyang Soeripto pernah menjadi Wakil Ketua Delegasi dalam kunjungan ke Paris. Pada waktu itu masih sebagai Negara komunis sehingga banyak yang menguntit di belakang.  Suatu sore, Eyang Soeripto dan teman-temannya makan di sebuah restoran, Eyang berfikir “sialan, di samping kita sepertinya ada yang memata-matai” sehingga karena takut ketahuan, mereka berbicara dengan bahasa Jawa, Sunda, pokoknya bahasa daerah Indonesia. Beberapa hari sebelum pulang, salah satu pejabat yang ada di restoran itu memberitahu Eyang dan teman-temannya bahwa mata-mata yang ada di restoran wakti itu pernah bertugas dan mengetahui bahasa daerah di Indonesia.
  4.      Pengalaman yang unik pada saat Eyang Soeripto menjadi Gubernur Riau, yakni ketika Eyang Soeripto dan istri (Eyang Titiek) pergi ke Amerika Serikat. Pada saat pergi ke AS, Eyang Soeripto menggunakan pesawat khusus dari San Fransisco ke Los Angeles disediakn oleh Texaco dan Cevron Oil Co. Isi pesawat hanya vrew, Eyang Soeripto dan Eyang Titiek dan penterjemah merangkap ajudan yang pernah sekoalh di AS. Uniknya bukan karena Gubernur Indonesia dari provinsi Riau adalah seperti Gubernur lainnya di Negara “sono”...

"Tetapi karena asal saya yang ndeso Blabag, daerah Jawa Tengah yang semua Taruna AMN ’60 tahu. Pada masa cuti, bersama teman-teman Taruna naik bis ke Yogya dari Magelang. Iku tbersama teman-teman Taruna lain yang akan naik kereta api dan pesawat terbang Yogya. Pada km 10, di desaku, saya teriak “Berhenti, berhenti!!”. Semua rekan di bus pada ketawa, tapi 32 tahun kemudian naik pesawat khusus di Negara adikuasa, apa tumon…


        5Ada lagi pengalaman semasa menjabat jadi Gubernur Riau, yakni mengikuti delegasi provinsi Riau ke      Jepang, KorSel, Taiwan yang dipimpin pak Radius kemdian Pak Hartato dan menteri-menteri lain. Pada saat seminar di kota-kota Negara tersebut biasanaya Gubernur ikut duduk di depan, apling pinggir deket floor. Paling berkeringat jika udah ada pertanyaan..”Mr. Governor...” Tanya soal izin Hak Guna, ini dan itu..

     “Ada dua hal yang perlu diketahui: pertama bahasa inggris saya belepotan untuk menjawab. Kedua, emang materinya sendiri dengan bahasa Indonesia aja udah susah kayak misalnya Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan sebagainya”

      Di kemudian hari, waktu seminar lagi, sudah dipersiapkan buku-buku oleh tim dari pusat dengan bahasa     Inggris sehingga mereka tidak usah bertanya banyak-banyak lagi.

   Eyang Soeripto meninggal dunia pada tanggal 7 Januari 2010 karena terjatuh di kamar mandi dan tidak sadarkan diri. Eyang Soeripto dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Ulang Tahun Eyang Kakung ke-75 (Bandung, 2009)
ki-ka:
(Kirana - Athirra - Chacha -Eyang Titiek - Libby - Eyang Kakung)
Ulang Tahun Eyang Kakung ke-75
Berita meninggal dunia Eyang Kakung di Liputan 6 SCTV
Ziarah ke makam Eyang Kakung
(Lebaran, 2012)
Maaf atas keterlambatan pengerjaan tugas ini. Karena dibutuhkannya beberapa narasumber yang terpercaya. Terima kasih banyak. Semoga menginspirasi dan bermanfaat bagi para penerus bangsa!

No comments:

Post a Comment