Sunday, 2 June 2013

Tugas 2 Biografi - Pritamara Wahyuningtyas XI IPA 4

Yangkung Pemimpin Keluarga, Membawa Perubahan Bagi Sekitar


H. Robani BcTT yang merupakan eyang saya,Pritamara Wahyungintyas, lahir di Tanjung Enim,Sumatera Selatan, pada tanggal 14 November 1936. Dilahirkan dari keluarga yang sederhana, beliau menganggap tidak ada hal special pada masa kecilnya, karena bagi beliau sekolah lah yang mewarnai hidupnya. H. Robani kecil yang gemar membaca dan belajar memulai jenjang pendidikannya di SDN Tanjung Enim. Sepanjang SD beliau merupakan salah satu anak yang menonjol karena wawasannya yang luas, dibuktikan dengan nilai rapor nya yang selalu menduduki peringkat teratas di kelasnya.

Setelah lulus dari SDN Tanjung Enim, beliau bersama keluarganya memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta yang juga merupakan kampong halaman dari keluarga beliau. Disana H. Robani melanjutkan pendidikannya ke SMP Muhamadiyah Yogyakarta. SMP Muhamdiyah merupakan satu dari sangat sedikit sekolah bernafaskan Islam, dikarenakan pada saat itu sekolah-sekolah Belanda lah yang mendominasi dunia pendidikan di Indonesia. Mayoritas orang yang bersekolah hanyalah kalangan-kalangan atas dan kalangan peninggalan Belanda. Beliau merasa sangat beruntung karena beliau masih bisa belajar, dan dengan mendapatkan pendalaman agama yang dianutnya pula. Beliau bercerita bahwa bersekolah di SMP Muhamadiyah tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan pelajaran konteks Agama Islamnya yang terbilang sangat kuat. Padahal di SDnya yang tidak ber latar belakang Islam beliau tidak mendapatkan dasar agama yang cukup. Sehingga beliau mengalami kesulitan dalam membaca Al-Quran. “…yangkung juga belajar huruf Arab gundul, kalau belum biasa bacanya pasti susah sekali karena nggak ada tanda bacanya dan beda lah pokoknya!” kenang beliau sambil tertawa kecil. Namun ketertarikannya pada Matematika semakin menjadi-jadi. “Yangkung paling suka belajar matematika saat materi aljabar dan trigonometri.” Hal ini memang terbukti, karena sampai terakhir bertemu saya beliau masih bisa mengerjakan soal-soal trigonometri SMA saya, meski kemampuan menghitungnya sudah tidak secepat dulu.

Lulus dari SMP Muhamadiyah pada tahun 1952, beliau melanjutkan pendidikannya di SMA de Britto Yogyakarta. “Tahu-tahu yangkung sudah didaftarkan disana. Suasana sekolahnya berbeda sekali, sangat disiplin. Teman-temannya juga pintar-pintar semua.” Beliau mengaku kaget karena peraturan sekolah di de Britto yang merupakan sekolah khusus laki-aki tersebut. Sangat tertib, bisa dibilang jauh dari sekolah-sekolah yang beliau telah jalani sebelumnya. “Tapi pengalaman yang paling lucu adalah saat hari pertama masuk. Yangkung masuknya telat beberapa hari dan salah jahit celana. Bapaknya yangkung kira celananya pendek, eh ternyata semuanya celananya panjang. Malu lah sudah, lucu sekali anak SMA, badannya kecil sendiri, celananya pendek pula kayak anak SD” kenang beliau.

Di penunjung masa SMA nya pula beliau mendapati adiknya akan dijodohkan dengan pejabat kaya raya di usianya yang dini. Saat iu adik beliau masih berumur 12 tahun dan belum cocok untuk dipinang seorang yang sangat dewasa. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengajak adik perempuannya kabur dari rumah , meninggalkan orangtua dan kakak-kakaknya. “Untung dibantu dengan Bu…ibu siapa ya itu yang dekat rumah jadi gak ketahuan.”

Beliau pun melanjutkan hidupnya dengan kerabat jauhnya, hidup seadanya. Padahal saat itu H. Robani sudah harus memasuki jenjang perguruan tinggi. Beliau pun mendaftar di terima di Fakultas Kedokteran Universitas Gajahmada, yang merupakan jurusan impiannya. Beliau mengakui menyadari ketertarikannya pada dunia kedokteran saat SMP dan sangat terdorong untuk menyembuhkan orang-orang, dimulai dengan mencoba mengobati keluarga-keluarga yang sakit ringan. Menjalani tiga smester di Universitas Gajahmada dengan memuaskan, dengan berat hati beliau pun mengundurkan diri dari Fakultas Kedokteran karena uang simpanannya tidak lagi dapat menunjang pendidikannya,mengingat biaya belajar di fakultas kedokteran yang berat,belum lagi ditambah media-media praktik dan percobaanya.

Namun beliau tidak patah semangat, dan merasa bertanggungjawab atas kehidupan kerabat dan adiknya, keluarga dekatnya satu-satunya yang masih duduk di bangku sekolah. Beliaupun mendaftarkan diri pada Akademi PTT Telekomunikasi. Dengan beasiswa, beliau memulai lagi jenjang pendidikanhnya yang baru, berbeda dari apa yang ia telah tempuh sebelumnya. Di Akademi PTT Telekomunikasi, beliau bercerita bahwa kelas nya tidaklah terlalu banyak. Ada spesialisasi tiap-tiap kelas namun beliau mengaku lupa jenis-jenis kelas nya. Namun pembagian itu bisa dikatakan sebagai ‘jurusan’ jika disamakan dengan universitas. Di kelasnya, beliau memiliki sekitar 20 orang teman sekelas yang tentunya memiliki kemampuan akademik yang sejajar, mengingat semuanya  merupakan siswa beasiswa. Berkutat di bidang telekomunikasi ternyata diakui beliau menarik karena di Akademi PTT Telekomunikasi ini beliau belajar segala sesuatu tentang system dan jaringan telekomunikasi. “Sampai sekarang kekerabatan antar teman-teman sekelasnya masih erat. Sering sekali yangkung berkumpul sama mereka. Yaa karena itu, muridnya sedikit sih”

Setelah lulus dari Akademi PTT Telekomunikasi pada tahun 1959, beliau memulai perjalanan karir nya di PT Telekom Indonesia mengingat adanya ikatan kerja setelah lulus dari Akademi PTT Telekomunikasi. Di perjalanan awal karirnya beliau menjadi staf teknik di kantor telepon Palembang. Saat itu system telekomunikasi di Indonesia, terlebih diluar Jakarta, sangatlah tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju. Kebetulan di daerah dinas pertama beliau, Palembang, telepon local di Palembang masih masih dijalanankan secara manual oleh tenaga operator. Padahal saat itu Palembang merupakan ibukota  Provinsi Sumatera bagian selatan. Kapasitas sentral telepon Ibukota Sumatera Selatan tersebut hanya sebanyak 1600 sambungan. Jaringan telepon pun rata-rata masih beroperasi dengan saluran atas tanah yang sangat rentan akan gangguan. Pada tahun 1965, dimulailah proyek otomatisasi  Kota Palembang, lengkap dengan jaringannya. Sayangnya, dengan keterbatasannya saat itu, hanya tersedia sebanyak 2000 sambungan sentral otomatis. Padahal yang menunggu sambungan sentral otomatis ada sekitar 3000 peminat. Tugas berat beliau bersama tim nya pun belum selesai. Hal ini dikarenakan fakta bahwa hubungan telepon ke ibukota kabupaten masih sangatlah buruk. Maka disusunlah rencana untuk menaikkan taraf fasilitas telepon. Kesibukan beliau diakuinya sangat luar biasa. Namun beruntunglah beliau telah menemukan pendamping hidupnya sejak 23 Maret 1962, yaitu Hj. Ningsih. Hj. Ningsih dan beliau mulai bekenalan saat beliau ditempatkan di kantor dinas dan mulai dekat satu sama lain.

Pada tahun 1965 sampai 1967 beliau diangkat sebagai kepala dinas teknik kantor telepon Palembang. Disaat itu pula beliau memulai proyek interlokal Palembang-Lampung-jakarta dan sejak itulah penduduk Palembang bisa bertelekomunikasi menggunakan telepon dengan warga Jakarta. Setelah itu, pada tahun 1967 beliau dipindahkan ke Lampung untuk bertugas sebagai Kepala Kantor Tanjung Karang. Disana beliau mengakui menemukan kesulitan baru karena harus menjalankan proyek pembangunan sentral telepon otomatis Tanjung Karang, Teluk Betung panjang dan proyek trans sumatera Microwave sebagai urat nadi jaringan interlokal dari Banda Aceh hingga Denpasar, bahkan Ujungpandang. Sejak proyek itu berhasil lah, terjadi perkembangan berarti bagi dunia telekomunikasi Indonesia pertama yang terjauh, menyambungkan hubungan telepon dari ujung Sumatera hingga Ujungpandang.

Seusainya proyek tersebut beliau melanjutkan karirnya sebagai kepala dinas teknik di Palembang,dari tahun 1967-1975 dan kepala kantor telepon Tanjung Karang dari tahun 1975-1978 untuk merapikan teknis di sana.

Pada tahun 1978, beliaupun dipindah tugaskan ke Bandung, yang merupakan kantor pusat. Beliau dipercaya sebagai Kepala Kantor Urusan Teknik Telkom Kantor Pusat Bandung hingga tahun 1980. Selanjutnya beliau kembali dipindah tugaskan ke ke Malang Sebagai Kepala Kantor Telkom Malang dan dilanjutkan pada tahun 1983 kembali dipercaya kembali menjadi Kepala Kantor, namun kali ini menjadi Kepala Kantor di Surabaya. Selama menjadi kepala kantor di dua daerah tersebut, beliau lah yang memulai proses pemasangan telepon secara merata. “Dulu di Surabaya telepon masih sedikit tar, gara-gara yangkung tuh, yangkung yang bikin Surabaya jadi ada teleponnya” ujar Ibu saya, yang merupakan anak kelima sekaligus anak bungsu dari H. Robani. “kalau sore pulang kantor, yangkung suka ngajak anak-anak nya kelilling jalan-jalan. Tapi jalan-jalannya sambil mantau kabel telepon. Kalau ada kabel telepon yang rusak, kelilit-lilit, langsung diafalin tuh tempatnya. Besoknya pasti dia marahin orang yang bertanggung jawab di daerah situ. Yangkung tuh atasan yang jeli akan pekerjaan bawahan-bawahannya dan sangat tegas.” Sambung ibu saya.

Karena ketangkasan dan profesionalismenya beliaupun terus melesat di karirnya. Pada thaun 1985 hingga tahun 1987 beliau menjadi Kepala Wilayah Telkom Sumatera Selatan-lampung-Jambi-Bengkulu. Pada saat inilah kelima putra putri beliau tidak mengikuti lokasi dinas beliau. Ke lima anak beliau memutuskan untuk menetap di Surabaya sementara beliau tetap terus berkala dipindahtugaskan. Selanjutnya beliau diangkat menjadi kepala Wilayah Telkom Sumatera utara dan Aceh hingga tahun 1992. Dan pada akhirnya beliau kembali Ke Bandung dan menetap di Bandung, dengan tugas sebagai Kepala Sub Direktorat Personalia Kantor Pusat Telkom Bandung. Sejak saat itulah, beliau menetap hingga sekarang di Bandung menikmati usia senja nya, meski tak ada darah Bandung pada dirinya. Setelah Pensiun pun beliau masih aktif di PT Telkom, dan menjabat sebagai Ketua Persatuan Pensiunan PT Telkom dan baru benar-benar berhenti berkegiatan 5 tahun belakangan ini.

Sekarang beliau menghabiskan hari-harinya dengan membaca, bermain dengan cucu nya yang tinggal di Bandung pula serta dengan rutin melakukan hobinya. “Yangkung tuh pagi-pagi jalan keliling komplek, ngisi TTS (teka-teki silang), main sama cucu, ngurusin kucing, dan betul-betulin sesuatu. Yangung tuh gak bisa diem, selalu nyari kerjaan” ujar yangti sambil tertawa kecil. DIakui seluruh keluarga bahwa hal tersulit sekarang adalah membuat H. Robani berhenti melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Beliau memang sosok yang tidak bisa diam, tanpa pekerjaan. Maka beliau selalu mencari kesibukan, bahkan di usianya yang hampir kepala 8 beliau masih membetulkan atap rumah dan keran sendiri. “yangkung gak boleh bandel, udah biar orang lain yang kerjakan. Jadi kakek-kakek biasa aja yang duduk duduk! Nanti kalau asma nya kambuh gue yang repot” ujar yangti sambil mencubit lengan suaminya tersebut.

Sifatnya tersebut sudah beberapa kali membawa petaka bagi dirinya sendiri. Tahun ini,terakhir kali saat beliau membetulkan atap rumah sendiri, penyakit asma nya kambuh dan membawa nya pada keadaan koma bahkan berhenti bernafas selama 15 menit. Namun Allah masih memberikan waktu bagi beliau untuk melanjutkan hidupnya. Beberapa hari setelah kesadarannya, beliau lupa ingatan dan berhalusinasi, karena efek dari tubuhnya yang sempat berhenti bernafas tersebut. Kami sekeluarga senang sekaligus sedih. Senang karena beliau kembali ke dunia ini dan sedih akan ingatannya yang hanya tersisa sedikit. Namun Alhamdulillah ternyata berangsur-angsur memorinya kembali pulih dan beliau masih mengingat segala detail dalam kehidupannya. “Makanya biar ingatannya kuat harus sering-sering main TTS kayak yangkung” ujar ibu saya.

Menurut ibu saya beliau merupakan sosok ayah idaman. Sosok ayah yang sangat mengayomi keluarganya dan suka bercanda dengan anak-anaknya. “yangkung lebih sering main-main sama anaknya,lebih sering daripada yangti (nenek)” tutur ibu saya. Setiap hari, ditengah kesibukannya sebagai Kepala Kantor dan orang yang sibuk, beliau selalu menyempatkan untuk membantu ibu saya dan kakak-kakaknya belajarm atau mengerjakan pekerjaan rumah. Setiap akhir pekan beliau juga selalu menjadwalkan untuk pergi sekeluarga, entah ke pantai, danau ataupun objek wisata lainnya. “Keluarga itu nomor satu” adalah prinsip dari kakek dengan 12 cucu tersebut. Anak-anak peliau termasuk ibu syaa  menganggap beliau adalah sosok yang sangat suka bercanda, suka melucu dan manja namun disisi lain sangat lah tegas, apalagi kalau sudah bicara soal pekerjaan. “yangkung itu orangnya terstruktur soal pekerjaan. Dan tegas nya ituloh, anak-anak nya gak ada yang nyangka kalau yangkung bisa marahin bawahannya dikantor. Padahal dirumah marah sekalipun gak pernah” kenang ibu saya. Kemampuan beliau membagi waktu dan sikap itulah yang sangat saya,keluarga, dan orang-orang yang mengenalnya kagumi. Selain itu beliau sosok yang sangat idealis, namun berhati besar.Menurut ibu saya, godaan-godaan di pekerjaan semua ia tolak, meski banyak orang berusaha mendekati nya untuk maksud tertentu mislanya promosi kenaikan tingkat, selalu beliau hiraukan dengan perlahan. Dengan kejujurannya dan kebesaran hatinya, tak heran jika sampai sekarang masih ada orang-orang yang berterimakasih padanya. “Umroh dan jalan-jalan saja itu pernah dihadiahi sama orang, katanya tanda balas budi” cerita ibu saya tentang ayahnya.

Dari beliaulah, kakek saya yang masih hidup, saya belajar. Tak hanya meneladani kegigihannya meniti kehidupan, memberi perubahan pada dunia telekomunikasi. Beliau mengajarkan dengan kegigihan kita, kita tak hanya akan mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, namun berbagi manfaat bagi orang lain, warga di Negara kita ini. Namun impian dan perjuangan kita untuk membawa manfaat bagi orang lain tetap harus dibagi untuk berbagi manfaat bagi keluarga kita sendiri. Bagaimanapun, keluarga adalah prioritas utama. “Keluarga yang bahagia sangatlah cukup bagi saya untuk kebahagiaan abadi di dunia ini.”

Foto Bersama Yangkung dan Yangti

No comments:

Post a Comment