Thursday, 6 June 2013

Tugas 2 Biografi Reyhan Mahardika XI IPS 2


 Eyang Sjahilun, Pahlawan Berumur Belia


Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang kisah hidup seseorang yang pernah menjadi pasukan Negara Indonesia dan memperjuangkan nyawanya demi negeri yang beliau cintai ini dan orang itu adalah tidak lain dari kakek saya dari ayah saya sendiri yaitu Eyang Syahilun, keluarga saya biasa memanggil beliau Eyang Kakung.
Hubungan saya dengan Eyang Kakung cukup dekat karena memang terkadang keluarga saya pergi mengunjungi kediamannya di daerah Tanah Mas, Jakarta Timur. Sekalinya keluarga saya berkunjung ke rumah Eyang Kakung, keluarga saya pasti pulang larut malam antara jam 11 atau 12 malam, karena kami semua banyak berbincang-bincang dengan eyang sampai waktu tidak terasa sudah larut.
Saya memilih Eyang Syahilun sebagai narasumber karena memang sudah jelas, Eyang Kakung  pernah mengikuti perang melawan para penjajah dengan usaha beliau sendiri untuk membela tanah air ini. Sebelumnya saya pun pernah diajak ayah untuk melihat “gudang” dirumah Eyang Kakung, waktu itu Eyang Kakung masih menyimpan dua macam senjata digantung di temboknya yaitu sebuah pistol berbentuk seperti Colt ’45 tetapi saya tidak tahu persis karena ketika saya ingin meminta untuk memegang dan melihat pistolnya, di tolak oleh ayah saya dan Eyang Kakung jadi saya tidak tahu persis jenisnya dan yang satu lagi adalah senapan semacam Carbine, bentuknya seperti Kar98k, senapan laras panjang milik Negara German yang dipakai oleh Nazi, saya tidak tahu persis juga apakah itu benar-benar kar98k atau bukan tetapi kedua senjata itu pun sudah tidak ada karena Eyang Kakung sudah mengembalikannya kepada pihak yang berwenang.
Begitu terlintas di kepala saya bahwa saya akan mewawancarai beliau sebagai narasumber saya, saya langsung menelfon kerumahnya dan mengabari sekaligus membuat janji kapan saya akan ke rumahnya dan kesepakatan pun sudah jadi dan akhirnya saya bertemu dengan beliau.
Di hari saya bertemu dengan Eyang Kakung, beliau pun dengan senang hati menceritakan biografi dan perjalanan hidupnya dalam memperjuangkan Negara Indonesia ini dengan sangat semangat dan seru.
A.   Biografi

Sjahilun Arifien, sesosok pria gagah nan perkasa yang ternyata adalah kakek saya, keluarga saya biasa memanggil beliau Eyang, beliau lahir di Purbalingga dan pada tanggal 15 Juni 1931. Beliau merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. Eyang hidup di 3 zaman, yaitu zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan zaman Kemerdekaan Republik Indonesia.

Eyang berpendidikan Negera Belanda mulai dari tahun 1938-1942. Mulai dari umur 7-42 Eyang berpendidikan zaman penjajahan Belanda dan bersekolah yang bernama “Vervolkshoel”. Eyang di didik dan hidup seperti layaknya orang Belanda, mulai dari lingkungan hidup, cara berbicara, sampai pertemanan.

Setelah melewati tahun 1942, pasukan-pasukan dari jepang pun datang ke Negara Indonesia untuk mengambil wilayah jajahan sehingga membuat perbedaan pendidikan, yang awal mulanya adalah pendidikan Belanda menjadi pendidikan Jepang. Orang-orang Indonesia pun hanya mengikuti kemauan para penjajah layaknya air yang mengalir dari hulu ke hilir. Lama-kelamaan orang-orang di Indonesia menjadi biasa dengan pendidikan yang diberikan oleh jepang dan pendidikan jepang pun bertahan hanya sampai pada tahun 1945, tahun dimana Amerika sebagai penjajah jepang menjatuhkan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, begitu tahu berita ini, pemerintah jepang pun menarik semua pasukan-pasukannya yang sedang berdudukan di berbagai Negara termasuk di Indonesia sehingga Belanda kembali menguasai Indonesia dengan maksimal.
Eyang bersekolah di SMP RI sampai tamat SMP. Dan melanjutkan sekolahnya di SMA sampai lulus.
Eyang lulus SMA tahun 1953 lalu masuk ke dalam Angkatan Udara RI (AURI) pada tahun 1954. Di tahun 1955 Eyang keluar dari AURI dan masuk ke Pendidikan Imigrasi sampai lulus pada tahun 1956. Setelah lulus dari Pendidikan Imigrasi, Eyang ditugaskan di lapangan terbang kemayoran, tahun 1960 dapat pendidikan khusus sesuai bidangnya. Pada tahun 1964, Eyang diberikan tugas atase imigrasi di Filipina sampai dengan tahun 1970. Setelah kembali ke Indonesia dari Filipina, di tahun 1975, Eyang diangkat menjadi kepala kantor imigrasi di pelabuhan udara halim perdanakusumah.
SMP kelas 2 pada umur 15 Eyang sudah berjuang melawan penjajahan belanda dan Jepang.

B.   Peranan:
Pada tahun 1945, Eyang masih duduk di bangku sekolah yaitu SMP kelas 2, sekolahnya bernama SMP RI. Eyang mengikuti latihan militer, kesatuannya adalah Tentara Pelajar. Pada saat Eyang latihan militer, masuklah penjajahan belanda yang kedua, kemudian Eyang menjadi pasukan organic pada kesatuan Tentara Pelajar Kompi 540 di Purwokerto.
Selama kurang dari 1 tahun Pasukan Eyang dan Pasukan TNI lainnya menghadapi serangan tentara Belanda di daerah Purwokerto dan sekitarnya. Satu tahun kemudian tepatnya tahun 1947 terjadi gencatan senjata antara pasukan Belanda dengan pasukan Republik Indonesia, selama dalam momen itu anggota pasukan Tentara Kompi  540 di wajibkan mengikuti pendidikan normal SMP kelas 2.
Pada tahun 1948 terjadi kembali lagi peperangan antara pasukan Belanda dengan pasukan Republik Indonesia, pasukan Tentara pelajar meninggalkan sekolah dan diwajibkan menghadapi dan berhadapan langsung pasukan Belanda di daerah Banyumas, Tegal, dan brebes, berbarengan dengan masa menghadapi pasukan belanda, lahirlah Pasukan Darul Islam (DI) di daerah yang sama sehingga pasukan TNI dan pasukan Tentara Pelajar menghadapi dua musuh yaitu pasukan Belanda dan pasukan DI.
Tahun 1948 Eyang mengalami hal yang sangat mengejutkan dan sangat hebat. Eyang diundang untuk makan siang di kantor lurah bersama 10 orang temannya, lalu salah satu temannya bernama Peno mempunyai firasat yang tidak enak dan bilang ke Eyang kalau sesuatu akan terjadi tetapi Eyang membantah itu, Peno pun tetap merasa was-was dan tetap memaksa Eyang untuk pulang ke rumahnya, Eyang mau tidak mau mengikuti perkataan Peno dan mereka hanya berdua saja. 8 orang lainnya bertanya-tanya kemana perginya Sjahilun dan Peno, dan 8 orang lainnya mengejar Eyang dan Peno. Tidak lama kemudian ternyata firasat Peno benar, mereka semua di kejar-kejar oleh pasukan DI yang berjumlah ratusan. Mereka tertangkap dan dibawa ke kantor lurah tadi. Kesepuluh orang itu hanya pasrah dan tidak bisa melakukan apapun, begitu pun Peno, Ia sudah pasrah akan kematian, dan ternyata benar, ke delapan temannya telah dibunuh di penggal lehernya di depan orang-orang DI dan di depan teman-temannya. Eyang dan Peno ada di urutan ke 9-10, ketika anggota DI memenggal leher orang ke 8, mereka merasa puas membunuh semua teman-teman Eyang, padahal di suatu gerombolan itu masih tersisa Eyang dan Peno. Eyang bingung ada apa ini kenapa hanya berhenti sampai di orang ke 8, lama kelamaan gerombolan anggota DI bubar dan menyisakan Eyang dan Peno berdua di lapangan terbuka, mereka berdua bingung, kalau mereka lari mungkin akan di tembak, Peno masih tetap pasrah akan kematian, tetapi Eyang tetap mengeluarkan tanda tanya besar kenapa mereka berdua tidak di penggal, Eyang berfikir mungkin ini mukjizar dari Allah, Eyang dan Peno seakan-akan menjadi tidak terlihat oleh para anggota DI. Setelah itu Eyang memikirkan strategi untuk mencari jalan keluar yang aman dan tidak di lihat oleh anggota DI. Eyang menemukan sedikit jalan keluarnya, yaitu Eyang dan Peno ke kuburan untuk mengumpat dari pengelihatan para anggota DI. Eyang dan Peno pun berjalan menuju kuburan tersebut, mereka berpapasan dengan anggota DI dan anggota DI itu pun tidak sadar dan tidak melihat bahwa Ia telah berpapasan dengan anggota Tentara Pelajar yang melainkan musuhnya. Akhirnya Eyang berhasil sampai di kuburan dan mengumpat mulai dari jam 1 siang sampai jam 9 malam. Eyang mempikirkan strategi selanjutnya untuk mencapai markas TNI, Eyang mendapatkan ide yaitu melewati kali-kali di sekitarnya. Eyang mulai berjalan dari jam 12 malam, rute yang ditempuh biasanya hanya memakan waktu setengah jam tetapi perjalanan mereka berdua menjadi lama sampai dengan 5 jam, karena mereka berhenti setiap 10-20 M untuk mengecek apakah aman atau tidak untuk di lanjutkan. Setelah itu mereka nyampai di markas TNI dan langsung melapor ke komandan TNI bahwa ada kejadian di daerah kantor lurah, komandan TNI pun menyuruh 1 pleton nya berikut dengan Eyang saya. Eyang tidak peduli jika harus kembali lagi ke tempat itu, hati Eyang hanya berisi semangat juang yang tinggi. Sesampai nya di tempat itu, yang ada hanyalah para wanita, lelaki nya sudah pergi ke hutan sehingga Eyang dan 1 pleton lainnya kembali ke markas dengan tanpa hasil.
Desember 1949, Gatot Subroto ditunjuk sebagai Panglima Diponegoro, Pasukan Tentara Pelajar Kompi 540 di tarik untuk menjadi pengawal Gatot Subroto di Semarang. Pada saat itu Tentara Pelajar mempunyai system pendidikan, yaitu siang belajar meneruskan pendidikannya dan malam bertugas sebagai anggota militer dari Gatot Subroto. Dan akhirnya Eyang lulus SMA di tahun 1953.
Dari tahun 1950-seterusnya Pasukan Tentara Pelajar diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan di beberapa Negara bagian, antara lain adalah Pendidikan Perwira TNI di Bandung, Pendidikan di luar negeri (angkatan laut di den herder, German, angkatan darat di Breda, Belanda, dan angkatan udara di California, Amerika).
Beberapa waktu kemudian pasukan Belanda ditarik untuk kembali ke negaranya, dalam keadaan aman, Pasukan Tentara Pelajar diwajibkan kembali sekolah lagi, pada waktu Eyang kelas 3 SMP, Eyang lulus SMP pada tahun 1950 pada waktu kedaulatan Panglima Divisi Gatot Subroto. Eyang melanjutkan sekolahnya di tingkat SMA dan lulus pada tahun 1953.
Dari tahun 1955-sekarang sudah tidak ada lagi penjajahan-penjajahan atas Negara lain kepada indonesia
Eyang mempunyai bintang jasa perang kemerdekaan 1, bintang jasa perang kemerdekaan 2, Gerakan Operasi Militer (GOM46) bintang Gerilya, status veteran adalah Veteran Perang Kemerdekaan.


No comments:

Post a Comment