Sunday, 23 June 2013

Tugas 2 - Biografi Ridhoutomo Putra.S XI IPS 2

Kontribusi seorang mahasiswa kedokteran dalam revolusi Indonesia



Pembukaan

Pada kesempatan kali ini, saya ditugaskan untuk mencari orang yang memiliki kontribusi dalam sejarah revolusi nasional. Untuk memenuhi kriteria tersebut saya memilih Dr.Djoefri Hasyim yang kebetulan adalah kakek saya sendiri yang merupakan ayah dari ibu saya Ermayanti Dewi Mustikanindyah. Sekarang kakek saya berusia 84 tahun, hidup tenang di daerah Solo. Berikut ini saya akan mengupas sedikit tentang biografi beliau yang merupakan seorang tentara di medan perang yang selanjutnya menjadi dokter spesialis bedah di RS Umum Sardjito Yogyakarta.


Biografi

Djoefri Hasyim lahir pada tanggal 05 bulan Agustus tahun 1929. Beliau lahir di Yogyakarta. Ayah Dr.Djoefri Hasyim bernama Hasyim Mochtar yang berkelahiran di Madiun yang berprofesi sebagai dokter dan mempunyai seorang ibu bernama Rukmini yang berkelahiran di Magelang. Beliau adalah anak kedua dari tiga bersaudara, Anak pertama dari keluarga Dr.Hasyim adalah Dr.Hasyim Rowawi yang berprofesi sebagai KOPASSUS pada jamannya dan mengabdi di PETA pada waktu itu, kemudian Dr.Djoefri Hasyim, dan Dr.Priyono Hasyim yang berprofesi sebagai dokter sampai sekarang yang tinggal di Jakarta.  Dr.Djoefri Hasyim menghabiskan masa kecilnya sampai anak ketiganya lahir di Kadipaten Kulon, Yogyakarta dan masuk kedalam SD daerah itu(sudah lupa), SMP Belanda(sudah lupa), dan SMA 3 Jogja. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada dan mengambil Jurusan Kedokteran yang memang sudah menjadi profesi mendarah daging dalam keluarga.

Kemudian saat perang kemerdekaan, beliau mengikuti beberapa pemberontakan bersama kakaknya seperti di Bantul, Kebumen, dan Purworejo. Beliau awalnya ingin meninggalkan profesi sebagai seorang dokter dan mengikuti jejak kakaknya yang masuk kedalam perjuangan secara sepenuhnya dan mengikuti jalan militer dalam hidupnya. Akan tetapi, pada setelah beliau mengikuti perjuangan di Bantul yang beliau bertugas sebagai asisten dokter lapangan(tetapi memegang senjata juga), beliau mengubah pikirannya karena saran dari dokter yang dia bantu di saat perjuangan tersebut, karena kata dokter tersebut, akan lebih baik bila melanjutkan hidupnya sebagai dokter membantu orang yang susah, lebih aman dan terjamin masa depannya. Beliau akhirnya pun mengikuti sarannya dan balik ke Jogjakarta melanjutkan studinya, menyelesaikan S1nya dan mengambil jurusan spesialis dokter bedah mengikuti ayahnya Dr.Hasyim Mochtar. Kemudian beliau praktek di Rumah Sakit Umum Dr.Sardjito di Yogyakarta dan masuk kedalam IDI(Ikatan Dokter Indonesia). Beliau juga merupakan salah satu mantan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Beliau merupakan salah satu dari tiga dokter bedah yang bertempatan di Yogyakarta, sehingga beliau pun mulai membudidayakan spesialis bedah di Universitas Gajah Mada tersebut.

Pada masa beliau bekerja, beliau berkenalan dengan Ermien Widayati dan menjadi istrinya yang menikah pada tanggal 20 bulan Mei tahun 2013, Beliau bersama istrinya tetep tinggal di Kadipaten Kulon, mereka melahirkan anak yang bernama Dr. Fridayati Dewi Mustikawati, Sp. B yang berprofesi sebagai dokter bedah internasional, kemudian Ermayanti Dewi Mustikaningdyah yang merupakan ibu saya sendiri yang bekerja sebagai manajer perusahaan batik Kusuma Putri, kemudian Roosnawati Dewi Mustikaningrum yang bekerja sebagai EO(Event Organiser) di Jogja, dan terakhir adalah Listyawati Dewi Mustikasari, SE. Pada tahun 197x(sudah lupa), Beliau beserta keluarganya pindah menuju Taman Siswo di Jogjakarta yang didapat dari hasil prakteknya di rumah sakit tersebut. Hidup beliau terjalankan dengan damai sampai tahun 2002 beliau mengalami penurunan kondisi kesehatannya dan mengakibatkan beliau harus medical check-up yang konstan. Pada tahun 2006, beliau beserta istrinya pindah ke Solo menempati rumah baru karena gempa bumi yang terjadi di Yogya menelan rumahnya sehingga kondisi rumah tersebut tidak dapat direnovasi. Di Solo, Beliau tinggal di Komplek Fajar Indah. Pada tahun 2013 Beliau beserta Istrinya membangun Mesjid dekat rumah mereka untuk menyalurkan amal mereka.


Keluarga Eyang di Taman Siswo pada tahun 1978
Perjuangan

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Beliau ikut berpartisipasi dalam bertarung melawan kekuatan kolonial Belanda yang berada di Jawa khususnya di Bantul, Purworejo, dan Kebumen. Beliau ikut memegang senjata api seperti Sten buatan Inggris dan . Beliau saat berpatisipasi di Purworejo, beliau menjadi tentara gerilyawan  yang berperang melawan Belanda di medan perang, disana beliau memakai ilmu perang  yang didapatnya dari wajib militer. Disana dia mendampangi kakaknya yang sebeneranya membawa dia pertama kali untuk bergabung dalam pertempuran  di lokasi  tersebut. Disana beliau pertama kali merasakan betapa pentingnya hidup manusia dan “kekukuhan” mereka untuk mewujudkan apa yang mereka mau. Beliau mengaku bahwa dia sangat beruntung kalau dia tidak terluka dalam pertempuran yang dia alami tersebut. Saat beliau berda di Bantul, beliau dipilih menjadi salah satu anggota dadakan untuk menjadi seorang asisten dokter PMI yang bekerja untuk para gerilyawan yang bertarung di Bantul. Disana dia membantu sang dokter(nama memang tidak dimuat) dalam berbagai hal mulai dari mempersiapkan peralatan yang diperlukan sampai membantu dalam operasi. Dari sang dokter tersebut, beliau belajar banyak darinya tentang kebaikan dan ketulusan dalam berkehidupan yang berdampak pada saat beliau dikemudian hari. Setelah beberapa waktu berlalu beliau bekerja di Bantul, sang dokter menyarankan beliau untuk balik ke Universitas Gajah Mada untuk melanjutkan studinya dibanding menjadi tentara karena memiliki peluang dimasa depan yang lebih terjamin dan aman. 

Awalnya beliau menolak karena ia ingin mengikuti jejak kakaknya yang menjadi anggota Kesko TT(nama Kopassus di masa lalu), tapi lambat laun beliau menurut kepada dokter tersebut dan balik menuju Jogja untuk melanjutkan studi Fakultas Kedokterannya di Universitas Gajah Mada. Setelah ia mendapatkan gelarnya dan spesialis bedah, beliau melakukan pengobatan – pengobatan gratis di banyak tempat mengikuti dalam pergerakan bersama teman seorganisasinya(kalau tidak salah IDI katanya). Pengobatan gratis tersebut didasari dengan pelajaran yang dia dapat saat dia menjadi asisten dokter di Bantul, melakukan penolongan tanpa pamrih dan hanya berdoa untuk yang terbaik dari perbuatannya tersebut. Setelah perang revolusi mereda dan keadaan Indonesia menjadi stabil, beliau tetap kukuh terhadap pendiriannya yang mengutamakan kesembuhan terlebih dahulu tanpa biaya, kesaksian ini terlihat dari anak – anaknya yang tinggal di rumah dan ajaran yang diajarkan kepada mereka untuk diturunkan dan diterapkan dalam kehidupan mereka.


Penutup


Walaupun kakek saya tidak dikenal dan mungkin tidak berkontribusi besar terhadap bangsa Indonesia ini tetapi saya sebagai cucunya sangat bangga atas jasa dan perjuangan yang dia lakukan untuk bangsa ini agar menjadi bangsa yang merdeka dan bebas. Mungkin hasil dari wawancara ini tidak dapat memuaskan dengan banyak akan tetapi hal tersebut dapat membuat saya lebih bangga dan senang atas mengetahui kenyataan sebenarnya atas kakek saya yang sangat tertutup atas masa lalunya.

No comments:

Post a Comment