Saturday, 1 June 2013

Tugas 2 Biografi - Syifa Larasati XI IPA 2

Mencari Inspirasi, Menjadi Inspirasi


Setiap perjalanan hidup manusia menorehkan sejarah. Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengkaji secara sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi di masa lampau.

Masa lampau itu sendiri merupakan sebuah masa yang sudah terlewati. Tetapi, masa lampau bukan merupakan suatu masa yang final, terhenti, dan tertutup. Masa lampau itu bersifat terbuka dan berkesinambungan. Sehingga, dalam sejarah, masa lampau manusia bukan demi masa lampau itu sendiri dan dilupakan begitu saja sebab sejarah itu berkesinambungan apa yang terjadi dimasa lampau dapat dijadikan gambaran bagi kita untuk bertindak dimasa sekarang dan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Sehingga, sejarah dapat digunakan sebagai modal bertindak di masa kini dan menjadi acuan untuk perencanaan masa yang akan datang.

Kejadian yang menyangkut kehidupan manusia merupakan unsur penting dalam sejarah yang menempati rentang waktu. Waktu akan memberikan makna dalam kehidupan dunia yang sedang dijalani sehingga selama hidup manusia tidak dapat lepas dari waktu karena perjalanan hidup manusia sama dengan perjalanan waktu itu sendiri. Perkembangan sejarah manusia akan mempengaruhi perkembangan masyarakat masa kini dan masa yang akan datang.

Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan perjalanan hidup kakek tercinta saya, Drs. Kardjono Wirioprawiro. Saya mengunjungi kediaman beliau di Jalan Kemang Raya No. 40 secara rutin setiap hari Minggu untuk sekedar makan siang, mengobrol, maupun berbelanja bersama. Jadi, saya sering kali mendengar kakek bercerita tentang kehidupan masa lampau maupun kehidupan saat ini.

Yangkung, begitu saya memanggil beliau, lahir di Jakarta, 26 November 1937. Yangkung merupakan anak ke 5 dari 8 bersaudara. Sewaktu kecil,  hidupnya jauh dari kata mewah. Ayah beliau (kakek buyut saya) dahulu bekerja sebagai Kondektur Kereta Api di Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yang terletak di daerah Jatinegara. Sewaktu kecil, yangkung tinggal di Jakarta di daerah Hutan Kayu. Namun, sebelum tamat Sekolah Dasar, Yangkung harus mengungsi ke Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah dikarenakan pecahnya Perang Revolusi 1945.  Karena keadaan ini, kakek buyut saya terpaksa keluar dari pekerjaannya. Sampai-sampai, nenek buyut saya harus menjual gado-gado di pinggir hutan. Yangkung juga turut membantu orang tua beliau dengan mencari kayu dan menjual makanan kecil di pasar. “hampir tidak sempat sekolah” begitu ungkapnya. Tetapi ketika itu, salah seorang kakak Yangkung selalu membimbing Yangkung belajar.

Setelah Perang Revolusi selesai dan Indonesia sudah kembali ke masa kedaulatan tahun 1950, Yangkung dan keluarga kembali ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya, lulus SMP, dan melanjutkan lagi di SMA Boedi Oetomo. Yangkung merupakan seorang anak yang cerdas,tergolong muda diantara teman-temannya dan Yangkung selalu menjadi juara kelas. Hal ini sangat membuat saya kagum, di tengah sulitnya hidup, beliau masih bisa berprestasi dengan baik. Setelah lulus dari SMA Boedi Oetomo tahung 1958,                Yangkung memilih meneruskan pendidikannya ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang dulu masih terletak di Salemba. Awalnya, Yangkung ingin mengikuti Pendidikan Dokter. Namun karena biayanya yang mahal, Yangkung memutuskan masuk FEUI saja. Sekolah ekonomi memberikan banyak keuntungan bagi Yangkung. Sewaktu kuliah, Yangkung  sering diminta mengerjakan tugas teman-temannya dengan imbalan uang atau pinjaman buku. Dahulu harga buku sangat mahal, jadi Yangkung sudah sangat senang jika diberi imbalan berupa pinjaman buku. Selama belajar di FEUI, Yangkung diminta menjadi Asisten Dosen Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, seorang Begawan Ekonomi Indonesia dan juga Prof. Dr. Subroto. Lima tahun kemudian, Yangkung lulus, menikah dan mengajar di Universitas yang sama. “Cita-cita saya memang menjadi guru” begitu tuturnya.
Yangkung dan Pak Soeharto

Tahun 1968,  Yangkung bekerja sebagai manajer BPU Niaga. Kemudian diajak Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo di Departemen Perdagangan, selama dua tahun menjabat direktur penelitian impor. Pada usia 33 tahun, Yangkung diangkat menjadi Atase Perdagangan Republik Indonesia di Singapura untuk membuka jalur perdagangan Singapura dan Indonesia, 1970.  Tiga tahun berselang, Yangkung kembali ke Indonesia. Yangkung menjadi anggota Boards Of Director CITC New York dan diangkat sebagai Sekretaris Ditjen Pengembangan dan Penelitian, merangkap Direktur Penelitian impor Departemen Perdagangan. Sejak 1978, Yangkung menjadi Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Departemen Perdagangan dan Koperasi, serta Dosen Luar Biasa FEUI. Pada tahun 1987, Yangkung memutuskan untuk pensiun dini.

Yangkung saat ini sudah berusia 75 tahun. Yangkung merupakan satu-satunya kakek yang masih saya punya hingga saat ini. Eyang putri saya meninggal dunia pada tanggal 6 September 2009 lalu. Saya sangat bersyukur mempunyai seseorang seperti Yangkung. Saya sering meminta pendapat serta masukan kepada beliau mengenai masalah pendidikan, hingga masalah kehidupan. Beliau merupakan pembimbing serta inspirasi terbesar saya. Dalam mendidik anak-anak serta cucu-cucunya, Yangkung berpedoman pada pendapat Imam Al-Ghazali “Anak itu ibarat anak panah, dan orang tua ibarat busurnya.”

Yangkung dalam buku Apa & Siapa sejumlah orang Indonesia 1983-1984

Saya dan Yangkung


No comments:

Post a Comment