Sunday, 2 June 2013

Tugas 2 Biografi - Zainul Muttaqin

Nyai Rohaya, Saksi Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang

         Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan cerita singkat dari kisah perjalanan hidup nenek saya Hj. Rohaya. Walaupun peranan beliau tidak begitu banyak, tapi menjadi saksi suatu peristiwa saja sudah cukup bagi saya untuk mengambil manfaat dari apa yang telah nenek saya lihat dan rasakan.

      A.   Biografi

            Pada tanggal 8 November 1941, telah lahir seorang perempuan yang bernama Hj. Rohaya. Beliau adalah nenek saya, Ibu dari Ibu saya, biasanya kami panggil dengan sebutan mami. Lahir di Palembang, Sumatera Selatan dari pasangan suami-istri Anang uti dan Nyimas Siti. Dari pasangan tersebut mempunyai 8 anak, dan nenek saya adalah yang ke 7. Saudara-saudara beliau adalah, Zaenab, Nining, Ningyu, Zuhro, Indun, Nungsidah, dan yang terakhir Abu Sofyan yang merupakan satu-satu nya saudara laki-laki beliau.

                Beliau mengawali pendidikan nya dengan bersekolah di SD Muhammadiyah 2, Kelurahan 3-4 Ulu, Palembang, Sumatera Selatan. Beliau mulai bersekolah di SD itu sekitar tahun 1947 setelah kota Palembang dinilai cukup aman dari para penjajah. Kemudian melanjutkan sekolah, di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 2 Bukit Kecil. Ketika sudah lulus dari Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 2 Bukit Kecil beliau tidak lagi melanjutkan pendidikan nya untuk ke jenjang yang lebih tinggi. Penyebab nya adalah karena ayah beliau tidak memperbolehkan nya untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, karena pada saat itu perempuan dikampung tersebut tidak ada yang berkerja di kantor an atau semacam nya dan hanya berkerja membantu ibu sebagai ibu rumah tangga.

            Meskipun Nenek saya tidak lagi melanjutkan Pendidikan nya, beliau tetap berorganisasi. Organisasi yang beliau ikuti adalah Nahdatul Aisyah. Kegiatan di sana beraneka ragam, mulai dari pengajian, hingga belajar memasak. Beliau mengikuti organisasi ini sampai dengan beliau menikah.

            Pada tanggal 2 Juni 1963 Nenek saya menikah dengan pria yang bertempat tinggal satu kampung dengannya. Pria itu bernama H. Abdul Hamid Ali, yang mempunyai aktivitas sebagai pedagang. Pernikahan Kakek dan Nenek saya di dasari atas perjodohan yang dilakukan oleh orang tua beliau. Pada zaman dahulu pernikahan yang dikarenakan atas perjodohan masih sangat banyak dilakukan, itu terjadi karena orang-orang zaman dahulu menikah dengan satu golongan nya saja, misal nya di Palembang terdapat gelar bagi pria yang disebut Ki Agus, hanya boleh menikah dengan wanita yang mempunyai gelar Nyimas saja, di luar itu tidak diperbolehkan untuk menikah dengan nya.

Kakek dan Nenek saya mempunyai 5 orang anak, 2 laki-laki dan 3 perempuan. Nenek saya melahirkan anak pertama nya pada tanggal 9 Mei 1964, yang diberi nama H. Abdul Rozak. Pada tahun 1966 bulan Mei tanggal 23 anak kedua nenek saya lahir yang bernama Hj. Sri Hartati, yang merupakan Ibu saya sendiri. Herman merupakan anak ketiga beliau yang lahir pada tanggal 18 Oktober 1969. Anak ke-empat nya bernama Elviana lahir pada tanggal 22 Januari 1971. Dan anak terakhir nya lahir pada tanggal 24 November 1972 yang diberi nama Erlinawati.

      B.   Peranan

Dalam peranan mengenai kisah kemerdekaan atau setelahnya, nenek saya tidak begitu banyak mempunyai cerita tentang itu. Yang paling di ingat oleh nenek saya adalah peristiwa yang terjadi di Palembang. Peristiwa yang di maksud adalah Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang. Saat terjadi pertempuran yang dilakukan oleh pihak Belanda tersebut nenek saya adalah saksi dari pertempuran itu.

Pertempuran Lima Hari Lima Malam ini terjadi pada tanggal 1 Januari hingga 5 Januari 1947. Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan perang tiga matra yang pertama kali Indonesia alami, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut terjadi melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara. Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai wilayah Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap wilayah Palembang dari aspek politik, ekonomi, dan militer.

Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera. Ditinjau dari aspek Ekonomi berarti jika Kota Palembang berhasil dikuasai sepenuhnya oleh Belanda maka berarti Belanda juga dapat menguasai tempat-tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong. Selain itu, Belanda mendapatkan pula perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor. Sedangkan jika di tinjau dari segi militernya, Sebenarnya pasukan TRI dan pejuang-pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relative mempunyai persenjataan yang terkuat di Indonesia, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan di luar kota. Oleh karena itu, jika pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Palembang secara total, maka akan mempermudah gerakan operasi militer mereka ke daerah-daerah pedalaman.

Peranan rakyat sangat besar dalam Pertempuran Lima Hari Lima Malam ini. Motivasi perjuangan rakyat Indonesia umumnya dan khususnya para pejuang di daerah Sumatera Selatan yakni adanya “sense to be a nation”. Rasa harga diri sebagai suatu bangsa yang telah merdeka. Semboyan “Merdeka atau Mati” yang berkumandang semasa periode perang Kemerdekaan adalah wujud usaha untuk menjaga agar tetap berdirinya Negara Republik Indonesia.

Peristiwa Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang ini terjadi ketika nenek saya masih berumur 5 tahun. Ketika itu nenek saya bertempat tinggal di kampung 4 ulu Palembang. Serangan itu terjadi pada tanggal 1 Januari 1947 sekitar pukul 05:30 pagi. Karena berbahaya, saat serangan itu terjadi nenek saya dan keluarga nya serta seluruh warga kampung langsung melarikan diri dengan menggunakan Kapal Roda Lambung.

Gambar Kapal Roda Lambung yang dinaiki nenek saya

Nenek saya bercerita bahwa pada saat itu, jika ayah nya ke pasar untuk membeli perlengkapan rumah tangga misalnya sembako, seperti susu, sarden, dan sembako-sembako lainnya itu membeli nya tidak sedikit-sedikit tapi langsung 1 peti, misalnya langsung membeli 1 peti susu. Jadi ketika ada serangan dadakan seperti peristiwa Pertempuran Lima Hari Lima Malam itu keluarga nenek saya sudah siap dengan logistik atau perbekalan pada saat mereka melarikan diri dari rumah nya. Jadi mereka tidak akan mengalami kelaparan saat melarikan diri.

Nenek saya dan keluarga nya melarikan diri dengan menggunakan Kapal Roda Lambung menuju Teluk Kijing. Disana Beliau tinggal dirumah panggung yang bisa dibilang cukup besar karena dapat di isi beberapa keluarga dari kampung 4 ulu yang melarikan diri bersama keluarga nenek saya. Hanya beberapa saat tinggal di Teluk Kijing terjadi pertempuran lagi di daerah itu, sehingga nenek saya beserta keluarganya pergi dari situ dan mencari tempat pengungsian lagi.

Pelarian diri yang menggunakan jalan laut ini berhenti di daerah bernama Muara Kelingi. Muara Kelingi ini adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Disini Nenek saya dan keluarga nya mula-mula tinggal di sebuah bedeng cina, namun di karenakan faktor ketidak nyamanan karena terdapat hal-hal gaib mereka pun pindah ke rumah kayu yang di dekat nya ada masjid. Mereka suka bermain di masjid itu ketika sore hari. Selain bermain, di sana nenek saya juga melihat adanya latihan menembak bagi para tentara.

Hal menyedihkan bagi nenek saya pun terjadi di Muara Kelingi. Di sana, Ibu dari nenek saya sempat mengalami sakit malaria. Karena zaman dahulu Dokter masih sangat minim, akhirnya Ibu dari nenek saya dibawa berobat ke dukun. Setelah 3 hari sakit, kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi, Ibu dari nenek saya pun akhirnya meninggal disana, dan dikuburkan disana. Nenek saya pun sangat bersedih atas kejadian itu.

Akhirnya Pertempuran Lima Hari Lima Malam ini diakhiri dengan gencatan senjata (cease fire) antara kedua belah pihak, dimana TRI/Lasykar harus keluar dari Kota Palembang sejauh 20 Kilometer kecuali Pemerintah Sipil RI dan ALRI masih tetap diperbolehkan berada di dalam kota. Sedangkan pos-pos Belanda hanya boleh sejauh 14 Kilometer dari pusat Kota Palembang. Jalan raya di dalam kota dijaga pasukan Belanda dengan rentang wilayah 3 Kilometer ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini segera disampaikan ke markas besar TRI di Yogyakarta.

Mendengar kabar bahwa Kota Palembang sudah aman tersebut, Nenek saya dan keluarga nya kembali pulang ke Palembang dan melanjutkan kehidupan nya sampai saat ini.

Inilah cerita singkat dari kisah hidup nenek saya yang bisa saya ceritakan.
Semoga kita dapat mengambil manfaat dari kisah ini. Sekian, Terima Kasih.

Foto saya bersama Nenek saya




No comments:

Post a Comment