Thursday, 6 June 2013

Tugas 2 - Farina Januaristy Wibisono XI IPA 3

"Kakek Widjajono, Selalu Sigap dalam Membela Tanah Air"
“Anak-anakku sekalian, terima kasih atas perjuangan kamu sekalian.Sebagai prajurit, kamu sekalian telah menunjukkan tugasmu.Tanpa perjuanganmu, tidak mungkin kemenangan kita capai.”
(Cuplikan wejangan Jend. Sudirman pada saat menerima parade perdamaian 
di alun-alun utara Yogyakarta, 10 Juli 1949).

Seperti halnya yang dikatakan Jenderal Sudirman, bahwa kemenangan tidak akan dicapai tanpa adanya perjuangan. Begitu juga  dengan Negara kita, Indonesia. Tanpa adanya perjuangan dari para pahlawan-pahlawan bangsa untuk menjadikan Indonesia Negara yang merdeka, mulai dari usaha-usaha mengusir tentara Belanda, Jepang, maupun usaha-usaha dalam mempertahankan kemerdekaan dengan menumpas berbagai pemberontakan yang ada di dalam negeri ini, tentu kemerdekaan Indonesia yang kita rasakan sekarang ini tidak mungkin tercapai.

Dalam sejarah, Bangsa Indonesia telah dijajah oleh bangsa asing sejak tahun 1511-1945, yaitu bangsa Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Selama penjajahan, peristiwa yang menonjol adalah pada tahun 1908, yang dikenal sebagai Gerakan Kebangkitan Nasional Pertama, yaitu lahirnya organisasi pergerakan Budi Utomo yang dipelopori oleh Dr. Sutomo Dan Dr. Wahidin Sudirohusodo. 20 tahun kemudian, pada tanggal 28 Oktober 1928, ditandai dengan lahirnya Sumpah Pemuda sebagai titik awal dari kesadaran masyarakat untuk berbangsa Indonesia, dimana putra putri bangsa Indonesia berikrar : “BERBANGSA SATU, BERTANAH AIR SATU, DAN BERBAHASA SATU : INDONESIA”. Pernyataan ikrar ini mempunyai nilai tujuan yang sangat strategis di masa depan yaitu persatuan dan kesatuan Indonesia. Niiai yang terkandung selama penjajahan adalah harga diri, solidaritas, persatuan dan kesatuan, serta jati diri bangsa.

8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang melalui Perjanjian Kalijati. Selama penjajahan Jepang, pemuda-pemudi Indonesia dilatih dalam olah kemiliteran dengan tujuan untuk membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya, melalui Seinendan, Heiho, Peta, dll, sehingga pemuda Indonesia sudah memiliki bekal kemiliteran. 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu dengan dibom atomnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Kekalahan Jepang kepada Sekutu dan kekosongan kekuasaan yang terjadi di Indonesia digunakan dengan sebaik-baiknya oleh para pemuda Indonesia untuk merebut kemerdekaan. Dengan semangat juang yang tidak kenal menyerah untuk merebut kemerdekaannya,  maka pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia resmi menjadi Negara yang merdeka dengan dibacakannya proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta. Tetapi, setelah merdeka bangsa Indonesia harus menghadapi Belanda yang ingin menjajah kembali dengan melancarkan aksi militernya yaitu Agresi Militer Belanda I (1947) dan Agresi Militer Belanda II (1948).

Tidak sampai disitu saja. Keadaan di tanah air pada saat itu pun tidak luput dari berbagai masalah, seperti pergantian kabinet sebanyak 27 kali, dan terjadinya berbagai pemberontakan, diantaranya yaitu DI/TII, APRA, RMS, Andi Azis, Permesta, dll. Selain itu, timbulnya penyimpangan dalam penyelenggaraan negara pun mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali pada UUD 1945. Penyimpangan yang sangat mendasar adalah mengubah ideologi Pancasila menjadi ideologi Komunis, yaitu dengan meletusnya peristiwa G30S/PKI. Peristiwa ini dapat segera ditumpas berkat perjuangan TNI pada waktu itu bersama-sama rakyat. Dengan peristiwa itu, maka lahirlah Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto. Selama Orde Baru pembangunan berjalan lancar, tingkat kehidupan rakyat perkapita naik, namun penyelenggaraan negara dan rakyat bermental kurang baik sehingga timbul korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang mengakibatkan krisis keuangan, krisis ekonomi dan krisis moneter serta akhimya terjadi krisis kepercayaan yang ditandai dengan turunnya Kepemimpinan Nasional, kondisi tersebut yang menjadi sumber pemicu terjadinya gejolak sosial. Kondisi demikian ditanggapi oleh mahasiswa dengan aksi-aksi dan tuntutan reformasi.

? BIOGRAFI ?

Dalam tugas sejarah ini, saya berkesempatan untuk mengetahui sejarah kehidupan ayah dari saudara mama saya. Beliau bernama alm. Widjajono Adiwasito. Beliau merupakan salah satu dari sekian penumpas perang pada masa penjajahan dulu sampai dengan masa orde baru pada masa pemerintahan Soeharto. Pangkat pertama beliau saat masuk TNI AD pada waktu itu adalah Letnan Muda I dan pangkat terkahirnya yaitu sebagai Brigadir Jenderal TNI. Jabatan terakhir yang beliau emban yaitu sebagai Waka Pusintelstrat Hankam. Walaupun beliau sudah tidak ada, saya mendapatkan kisah perjalanan mengenai Kakek Widjajono ini yang turut berperan dalam kemerdekaan Indonesia dari anak Kakek Widjoyono sendiri, yang mana adalah tante saya.

Kakek Widjajono saat masih bersekolah
Kakek Widjajono lahir di Ambarawa, 6 Juni 1928. Beliau merupakan anak ke-3 dari 8 bersaudara, dari pasangan Bapak R. Soewadi Adiwasito dan Ibu RA. Soedarijah Wedana. Beliau menikah dengan Ibu J. Suhaerah di Bogor, 20 Januari 1956, dan dikaruniai 6 orang anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Sampai sekarang, cucunya berjumlah 3 orang, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Saat masih kecil,  Kakek Widjajono dan keluarga pindah ke Jogja, dan tahun 1959, beliau pindah ke Jakarta.

Pada zaman Belanda dulu, Kakek Widjajono bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School  (HIS), atau setingkat dengan SD pada zaman sekarang. Pada Zaman Belanda dulu, tidak ada yang namanya TK, sehingga anak-anak pada zaman dulu, termasuk Kakek Widjajono langsung dimasukkan ke HIS di Jogja. Sistem pembelajaran di HIS sama dengan sistem pembelajaran di Belanda, dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Di HIS, beliau menempuh ilmu selama 7 tahun, lalu meneruskan ke MULO, atau setara dengan tingkat SMP pada zaman sekarang.  

TANDA JASA / PENGHARGAAN
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Kartika Eka Paksi KI. III
  • Bintang Sewindu
  • Satya Lencana Kesetiaan XXIV
  • Satya Lencana Peristiwa Kemerdekaan I    
  • Satya Lencana Peristiwa Kemerdekaan II
  • Satya Lencana GOM I Madiun
  • Satya Lencana GOM II APRA
  •  Satya Lencana GOM IV Sul-Sel
  • Satya Lencana GOM V Ja-Bar
  • Satya Lencana Sapta Marga
  • Satya Lencana Penegak

PENGALAMAN / KESAN - KESAN

Periode Sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17-8-1945
Pada zaman Jepang, Kakek Widjajono masih bersekolah. Sembari menuntut ilmu, beliau juga rajin membantu Pak Parman, atau yang dikenal dengan Letjen S. Parman (Pahlawan Revolusi) dalam kegiatan-kegiatan bawah tanah melawan tentara Jepang di Yogyakarta. Selain itu, Kakek Widjajono juga kerap kali membantu Jenderal Sudirman sebagai mata-mata untuk mengetahui kekuatan lawan. Dikarenakan wajahnya yang tidak terlihat seperti orang pribumi, sehingga beliau seringkali lolos dari penangkapan musuh. Hal ini merupakan awal dari terjunnya beliau ke dunia intel.

Periode Perjuangan Fisik Merebut, Membela, dan Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1949)
Dalam periode ini, Kakek Widjajono mengatakan bahwa hal yang paling berkesan ialah pada saat perjuangan merebut kemerdekaan. Beliau bergabung dengan badan perjuangan di bawah pimpinan Bapak S. Parman di Yogyakarta. Badan tersebut adalah BPU, singkatan dari Badan Pengawas Undang-Undang, yang berada langsung di bawah KNI di Jogja.

Badan tersebut beranggotakan anak-anak sekolah menengah tingkat SMP/STM/SMT dan unsur-unsur ex PETA serta Kempeiho. Barisan Kempeiho adalah orang-orang Indonesia yang bertugas di Kempeitai, satuan polisi militer Jepang yang ditempatkan di seluruh wilayah Jepang, termasuk daerah jajahan. Kempeitai sangat terkenal dengan kedisiplinan dan kekejamannya.

Bergabungnya Kakek Widjajono ke dalam BPU dianggapnya hal yang paling berkesan pada saat itu ialah karena hal itu merupakan fase transisi dari lingkungan sekolah beralih ke lingkungan perjuangan, dengan semangat motivasi perjuangan tanpa pamrih apapun.

Periode Perjuangan Mempertahankan / Menegakkan Kemerdekaan dan Penumpasan Pemberontakan (1950-1965)
Tahun 1950, Kakek Widjajono turut berperan dalam penumpasan APRA di Jakarta. Beliau pada saat itu berkedudukan sebagai pembantu/asisten dari Kas Gubernur Militer Jakarta Raya dalam bidang polisionil. Pada mulanya, Kakek Widjajono mendapatkan tugas-tugas intel di lapangan. Keadaan di ibukota pada masa itu masih terdapat tentara Belanda (KL dan KNIL). Dalam tugasnya, Kakek Widjajono berhasil menarik beberapa group APRA ex KNIL, sehingga gerakan APRA di ibukota dapat digagalkan total.

Saat penugasan penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan, Kakek Widjajono yang pada saat itu sebagai Komandan Kesatuan Polisi Militer diterjunkan langsung ke lapangan, yang keadaannya pada waktu itu sangat kontras jika dibandingkan dengan daerah penugasan sebelumnya di Jakarta. Tugas-tugas yang diberikan kepada satuan-satuan POM pada waktu itu yaitu di samping tugas pokok (polisionil), tetapi juga diberi tugas-tugas territorial dan intelijen.

Kakek Widjojono sedang berpose,
saat penugasan menumpas  DI/TII di SulSel
Kakek Widjajono juga ditugaskan dalam penumpasan Permesta di Sulawesi Utara pada tahun 1958. Dalam penumpasan ini, memberikan kesan tersendiri bagi Kakek Widjajono karena yang dihadapinya dan yang dianggap musuh pada penumpasan ini ialah teman-teman ex TNI-nya sendiri. “Bahkan banyak kolega setingkat yang saya kenal pribadi, baik dalam penugasan maupun dalam pendidikan tentara atau pergaulan-pergaulan intim.” ceritanya dalam catatan mengenai kehidupannya.

Pada periode penumpasan G 30 S/PKI, Kakek Widjajono dipanggil oleh PANGKOSTRAD sebagai saksi pengangkatan jenazah 7 pahlawan revolusi yang merupakan korban dari G 30 S/PKI, karena di antara 7 korban itu ada 2 kerabat Kakek Widjajono, yaitu Jenderal S. Parman dan Jenderal Sutoyo.

Menurut cerita Kakek Widjajono, Jend. Sutoyo seperti memiliki six sense. Sebelum penculikan oleh pasukan Cakrabirawa, Jend. Sutoyo menghubungi Kakek Widjajono, memberitahu bahwa ia akan diculik oleh pasukan Cakrabirawa. Mengetahui bahwa ia akan diculik, Jend. Sutoyo sudah berpakaian rapi, tidak seperti jenderal-jenderal lainnya yang masih berpakaian rumah. Selain itu, Jend. Sutoyo juga seperti memiliki ilmu kebal. Di antara 7 Pahlawan Revolusi yang disiksa dengan kejam saat peristiwa G30S/PKI, Jend. Sutoyo yang wafat terakhir.

Kakek Widjajono juga menjadi saksi pada saat hukuman mati Jenderal Supardjo di Cirebon pada 17 Mei 1970.  

Periode Pembangunan (1966-1970an)
Dalam periode ini, Kakek Widjajono turut aktif di POM ABRI dalam penyelesaian rangkaian peristiwa-peristiwa bersejarah pada masa itu, yakni Peristiwa Malari, yang mana merupakan peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974, saat PM Jepang, Tanaka Kakuei sedang berkunjung ke Jakarta, dan Peristiwa Sawito Wibowo (1976), yang mengaku mendapat wangsit sebagai pemimpin baru Indonesia, menggantikan Presiden Soeharto pada saat itu.

PESAN-PESAN

Dari kesan-kesan yang telah dialami oleh Kakek Widjajono di atas, beliau juga berpesan kalau motivasi perjuangan TNI perlu dihayati oleh kita semua sebagai generasi penerus bangsa. Motto TNI ialah “Pertama-tama pejuang, baru kemudian prajurit profesional.” “Meskipun kondisi kita pada waktu itu berbeda dengan kondisi adik-adik sekarang, tetapi motivasi perjuangan seperti yang saya sebutkan di atas perlu dipertahankan.” Begitulah pesan beliau untuk kita semua sebagai generasi penerus.

saat menjadi Waka Pusintelstrat Hankam
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Kalimat itu memang benar adanya. Jasa-jasa mereka begitu besar bagi negeri kita. Mereka telah berjuang mengorbankan nyawa demi tumpah darah Indonesia. Kita, sebagai generasi penerus, walau tidak perlu berperang melawan penjajah, tetapi kita dapat menghargai jasa-jasa para pahlawan kita dengan memperingati peristiwa penting dalam perjuangan bangsa, seperti  Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, hari Kebangkitan Nasional, dll. Selain itu, sebagai pelajar, kita harus giat dan tekun agar kelak menjadi putra-putri bangsa yang berprestasi, serta meneladani sikap kepahlawanan dan patriotisme dalam diri kita. Semoga kita dapat meneruskan perjuangan para pahlawan kita, membawa Indonesia menjadi Negara yang lebih baik. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membaca.

No comments:

Post a Comment