Monday, 17 June 2013

Tugas Wawancara

Basri Tamin, Pelajar di Antara Sejarah

Sejarah masa lalu Indonesia yang penuh dengan polemik negeri, diwarnai dengan politik yang tidak bisa dibilang bersih, merupakan sebuah kejadian yang tentunya tidak bisa dilupakan oleh orang-orang yang mengalaminya. Rentetan-rentetan peristiwa yang sewaktu itu datang seperti secara bertubi-tubi, meskipun mulanya berakar dari penjajahan sekitar tahun 1600-an dan bahkan belum berakhir pada saat proklamasi kemerdekan tahun 1945. Banyak pertanyaan melingkupi peristiwa-peristiwa yang terjadi selama tahun-tahun ini. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai mengapa Indonesia bisa dijajah begitu lama, dan oleh bangsa yang berganti-ganti. Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang sudah pernah menapakkan kaki di Indonesia dengan maksud memonopoli—baik perekonomian ataupun kehidupan rakyat Indonesia. Masa-masa ini kemudian berlanjut hingga bertahun-tahun setelahnya, melibatkan banyak orang-orang di Indonesia. Tidak penting apakah mereka bangsawan, saudagar, pejuang, ataupun rakyat sipil biasa; tidak ada satu makhluk hidup pun yang luput dari cengkeraman waktu yang tiap langkahnya membuat satu guratan sejarah baru.
Pada tanggal 28 Juli 1938, kakek saya, Basri Tamin, lahir dari pasangan H. Tamin dan Hj. Marisah. Beliau merupakan anak ketiga dari empat bersaudara di Rumah Sakit Bukittinggi. Pada masa itu, ayah dari kakek saya, yaitu H. Tamin, merupakan seorang datuk, atau seorang yang dituakan di daerah Pandesikek, Sumatera Barat. Beliau juga merupakan seorang saudagar mancanegara, yang bergerak di berbagai bidang perdagangan. Ayah dari kakek saya memang sangat menginginkan anak laki-laki, dan ketika pada akhirnya kakek saya lahir, sebagai anak laki-laki pertama, ia disambut dengan meriah. Ayah dari kakek saya mengadakan syukuran besar-besaran.
                Masa-masa kecil kakek saya dihabiskan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Dari sejak dulu, ia mewarisi bakat dan kepintaran dari ayahnya. Dikarenakan darah Cina yang mengalir di dalam keluarga kakek saya, kulitnya putih dan matanya agak sedikit sipit, sehingga wajahnya bisa dikatakan unik diantara teman-teman lainnya.
                Sebagai seorang saudagar, ayah dari kakek saya memang piawai dalam menjalankan bisnisnya, meskipun ia tidak bisa membaca. Ia hanya bisa berhitung, dan mudah bergaul. Ayah dari kakek saya berhasil menjalin bisnis di Malaysia, dan akhirnya, pada zaman pendudukan Jepang, ayah dari kakek saya berhasil menjalin hubungan baik dengan tentara Jepang yang datang ke Indonesia.
                Karena pada masa itu kakek saya masih bisa tergolong kecil, dan dikarenakan wajahnya yang mengandung darah Cina yang dasarnya masih satu nenek moyang dengan bangsa Jepang, tentara Jepang senang dengan kakek saya. Mereka mengajak kakek saya bermain, bahkan mereka mengajak kakek saya untuk berkeliling dengan tank tentara Jepang.
                Kemudian, Jepang yang mulai terlihat niat buruknya untuk datang ke Indonesia, mulai memonopoli segala sektor yang ada di daerah tempat tinggal kakek saya, yaitu daerah Sumatera. Hal ini menyebabkan usaha dari ayah kakeknya mulai menurun, meskipun keluarga kakek saya masih bisa tergolong sebagai keluarga yang berada pada masa itu. Lalu Jepang mulai diserang oleh negara-negara lain karena aksi pengebomannya di Pearl Harbour, yang mengawali terjadinya Perang Dunia II. Ketika Jepang sedang mati-matian berusaha membela wilayah mereka, Jepang meningkatkan produksi berbagai macam barang di negara jajahan mereka, Indonesia, agar kas mereka kembali terisi. Produksi yang dilakukan belum cukup, akhirnya mereka menerapkan berbagai metode yang kasar. Salah satunya adalah metode merampas secara paksa. Ayah dari kakek saya, yang tadinya merupakan teman baik tentara Jepang, seluruh hartanya dirampas secara paksa oleh tentara Jepang. Usahanya diambil alih. Karena ayah dari kakek saya tidak bisa melakukan hal lain selain berhitung dan berdagang, dan karena seluruh usaha serta modal dagang yang dimilikinya dirampas oleh Jepang, keluarga kakek saya jatuh miskin.
                Ibu dari kakek saya, Hj. Marisah, sama sekali tidak berniat untuk membiarkan keluarganya dalam keterpurukan; apalagi ketika anak-anaknya masih belum dewasa. Pada masa itu kakek saya masih duduk di bangku SD. Kakek saya hanya masuk sejenis sekolah negeri pada zaman Jepang, tapi beliau tidak pernah tidak juara kelas.
                Ibu dari kakek saya akhirnya memutuskan untuk memulai kembali bisnis keluarga. Mulanya ia membatik, kemudian kain batiknya dijual ke orang-orang yang masih mempunyai banyak uang oleh ayah dari kakek saya. Dengan uang hasil  berjualan batik itu, kakek saya berhasil lulus SD dan masuk SMP negeri, dan masih juga bersekolah di Bukittinggi.
                Kemudian datang masa-masa dimana kain batik tidak begitu dinikmati lagi, dikarenakan banyak hal lain yang lebih penting daripada rak-rak berisi koleksi kain batik. Masa-masa ini adalah masa-masa dimana perjuangan pasca-kemerdekaan masih sangat gencar, masa-masa perundingan dan Agresi Militer Belanda. Orangtua dari kakek saya menyadari bahwa usaha kain batik tidak akan cukup untuk mengembalikan mereka ke kekayaan materiil yang sebelumnya sudah mereka capai. Mereka kemudian memutuskan untuk berjualan rokok—yang pada masa itu pembuatan rokok hanya sebatas tembakau yang dilinting dalam kertas dan dikerjakan dengan tangan. Dengan usaha rokok ini, kakek saya dan saudara-saudaranya berhasil masuk ke perguruan tinggi.
                Tahun 1956, kakek saya masuk perguruan tinggi di Bukittinggi. Ia masuk ke fakultas ekonomi, dan tetap menjadi juara di perguruannya. Ia kuliah sambil bekerja untuk membantu keluarga. Tetapi, baru satu tingkat yang dilewati oleh kakek saya, beliau terpaksa berhenti kuliah. Hal ini dikarenakan pemberontakan PRRI yang berpusat di daerah sekitar Sumatera Barat tempat kakek saya tinggal. Banyak jalan-jalan yang terblokir dan gedung-gedung yang hancur di tengah-tengah pemberontakan tersebut. Memang, masa-masa itu adalah masa-masa ketika gerakan separatis ramai terjadi. Kakek saya berhenti kuliah, dan tak lama kemudian, berhenti bekerja karena ia tidak bisa bekerja dengan efektif sementara di sekitarnya banyak pemberontakan.
                Tahun 1959, dikarenakan kakek saya tidak bisa melanjutkan kuliah di Bukittinggi, kakek saya pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia, fakultas ekonomi perniagaan. Tetapi, tak sampai satu tahun di Jakarta, kakek saya kembali pindah ke tanah rantauan yang lain, yaitu Palembang. Pada tahun 1960, beliau mendaftar dan masuk ke Universitas Sriwijaya, dan berpindah haluan ke hukum. Beliau kuliah sambil bekerja di BNI 46, dan bertemu dengan nenek saya untuk pertama kalinya pada tahun 1962, yaitu Yulizar Djamu.
                Pada waktu itu, kakek saya tidak tahan untuk kuliah di fakultas hukum, lalu akhirnya berhenti kuliah. Tahun itu juga, kakek saya mendengar kabar dari salah satu temannya bahwa Departemen Keuangan sedang membuka lowongan untuk menerima mahasiswa, yang nantinya akan diberi kursus selama satu tahun, lalu bekerja di Departemen Keuangan. Kakek saya, yang memang pada dasarnya tidak bisa jauh-jauh dari unsur ekonomi, mendaftar. Ia mengikuti kursus tersebut selama satu tahun. Di ujian akhir saat kursusnya hampir berakhir, ia meraih nilai tertinggi dan mendapat gelar peringkat pertama se-Sumatera Selatan di data Departemen Keuangan tersebut. Hal ini membuatnya ditarik oleh Departemen Keuangan di Jakarta. Tahun 1963, kakek saya pindah ke Jakarta untuk melaksanakan kursus selama satu tahun lagi. Selesai kursus ini, kakek saya kembali meraih peringkat tiga besar, kali ini se-Indonesia.
                Departemen Keuangan kemudian meminta kakek saya untuk kuliah selama beberapa tahun di
STIKN (Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan Negara)—yang merupakan STAN (Sekolah TInggi Akuntansi Negara) pada masa itu—dengan iming-iming beasiswa dan pekerjaan yang menjanjikan. Kakek saya setuju, tapi beliau memutuskan untuk kembali ke Palembang terlebih dahulu sebelum meneruskan kuliahnya di STIKN. Tahun 1964, beliau kembali ke Palembang dan menikah dengan nenek saya. Nenek saya dibawa serta ke Jakarta. Nenek saya tetap bekerja di BNI 46 di Jakarta, sementara kakek saya melanjutkan kuliah di STIKN.
                STIKN memang memberikan jaminan beasiswa dan segala macam janji akan pekerjaan yang sangat menggiurkan pada masa itu, tapi salah satu syaratnya adalah kakek saya tidak boleh menikah sampai kontrak kerjanya selama dua tahun selesai. Tapi, ketika ibu saya lahir pada tahun 1965, dua tahun kemudian kakek saya mengaku pada pimpinan universitas bahwa ia sudah menikah dan mempunyai anak. Akhirnya, setelah tiga tahun menempuh pendidikan, ia dikeluarkan dari STIKN dan tidak melanjutkan kuliahnya.
                Ketika ibu saya lahir pada tahun 1965, masa itu pemberontakan PKI sedang gencar-gencarnya. Nenek saya yang waktu itu masih bekerja di BNI 46, diminta berhenti oleh kakek saya karena resiko yang sangat besar bila perempuan yang usianya tergolong masih belia berjalan sendirian di masa-masa yang kelam itu. Nenek saya berhenti bekerja di bank dan menjadi ibu rumah tangga, mengurus ibu saya dan adik-adik ibu saya nantinya.
                Tidak begitu banyak kontribusi yang dilakukan oleh kakek saya pada periode antara tahun 1945 hingga 1967, dikarenakan kakek saya yang pada masa itu masih merupakan pelajar ataupun mahasiswa. Selain itu, kakek saya adalah golongan dari orang-orang yang belajar, orang-orang yang punya pemikiran-pemikiran besar, tapi tidak pernah berjuang secara fisik. Tapi, bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi selama periode ini telah menimbulkan akibatnya pada kehidupan kakek saya.

No comments:

Post a Comment